lagi da lagi selalu bercerita tentang ia, tentang pria hujan....
hihihi gapapa kali ya :p
Rintikan hujan sore itu membawa sapaan hangat terlontar dari
bibir indah itu, bibir yang selalu mengukir senyuman, dengan dihiasi oleh kedua
bola mata sipitnya yang memandang dengan pancaran hangat, ia selalu menyapa dengan penuh kehangatan nan
lembut, perpaduan yang unik bukan?. Bahkan aku mungkin belum mengetahui
sosoknya yang nyata, namun entahlah sapaan itu mampu membuat ku terlarut
walaupun hanya sesaat.
Sapaan yang selalu mengalir setiap waktu pagi, malam, atau
siang hari ketika matahari mampu memberikan sinar triknya yang amat menyengat, namaun panas nya
sinar orange itu tak menyurutkan aku untuk terus menunggu sapaan hangat itu,
sejak awal bertemu yang ku tau kau begitu ramah dengan sapaan indah itu,
mungkin terlalu klasik alasan ku saat ini terjatuh dalam pandangan bola mata
sipit milikmu, bahkan aku belum mengetahui siapa kamu, bagaimana dirimu, bagaimana
kau yang sebenarnya. Namun sudah terjatuh begitu cepatnya karena sapaan
hangatmu yang selalu terlontar dengan hangat.
Awal desember dimana
sapaan di mulai, saat kau mungkin tak meganggap semua itu nyata semua itu
terpatri tepat di limit otakku, selalu menghantui bahkan seperti heroin yang
selalu menyelimuti menunggu bagaimana bisa bercengkrama hangat lagi dengamu,
perkataan hangat, kepedulian sosokmu yang menjadikan ku mungkin terlalu dalam
untuk melihatmu, untuk merasakan jika benar benar kau itu nyata tapi semua itu
semu, dahulu semua itu semu.
Senyum kembali harus pudar ketika sapaan hangat itu ternyata
bukan hanya milikku, terlalu banyak yang kau sapa dengan begitu hangat, mungkin
aku yang terlalu berlebih mengganggap semua ini, mencoba bersikap layaknya air
yang senantiasa tenang saat ia tak di usik. Kau kembali menyapa ku dengan kepedulian yang teramat indah, kau
berbicara layaknya tetesan hujan yang dengan sejuknya menyirami tanah bumi,
yaah kau menyukai itu menyukai tangisan bumi, menyukai Rintikan hujan yang
terus saja menyapu kota yang saat ini kita pijakki, kau menyukai hujan itu yang
kutau, aku kembali membuka mata saat kau bercerita tentang apa itu arti hujan, saat kau berbicara apa itu
kedewasaan, kau berkata ‘dewasa itu
sulit harus mengenal cinta dan cinta itu rumit’ inikah dirimu, inikah engkau dengan
sejuta penuh Tanya aku menatap mu, sepertinya salah satu rongga tubuhku kau bawa
pergi saat hentakan kakimu dan punggung tegapmu
menjauh dari hadapanku untuk menemui seseorang di ujung jalan sana yang
menunggumu, seorang wanita, yah wanita….
Mungkin aku menatap mu semu ,aku tau esok kau akan kembali
lagi kesini, kembali menyapaku dengan sapaan kembali mengulurkan tanganmu untuk
meraih dan menggenggam erat tanganku. Namun wanita yang kini berada di dekatmu
membuat se eogok perasaan aneh mengalir di dinding relung jiwa ku, seperti
tertohok aku menjatuhkan buliran bening di pelupuk mata ku sendiri, kesakitan
itu, mengapa aku menangisi mu itu yang ku pertanyakan.
Benar bukan kau kembali dengan sapaan hangatmu dengan
sentuhan lembutmu itu, kau selalu
memperdulikan aku , namun malam itu kau
Nampak berbeda sepucuk sapaan serta penuturan katamu terlontar begitu jelas,
membuat seluruh persendian ku remuk, tak mampu lagi menopang diri , aku tau ini
semua fake world, heey kau tau apa artinya bertemu denganmu di dunia ‘fake
world’ membuat aku harus terjatuh, saat kau berkata ‘datanglah aku akan mengikat
janji esok bersama gadis itu’ aku hanya mampu tersenyum pahit dan mengangguk
menatap senyum sapa mu, mengamati tingkah lakumu yang se enaknya saja
memperlakukan aku malam ini dengan istimewa layaknya aku adalah wanita untukmu,
namun semua itu semu. Mungkinkah hanya akuh yang menatap itu berlebih, yaah
mungkin itulah kesalahanku. seharusnya aku tak seperti itu, namun kau bisa apa
??
Kau tau aku hanya mampu melihat mu dari kejauhan mengawasi
dirimu yang saat ini tengah bersenang senangg dengan ‘gadismu’ aku kembali
harus menata semuanya, menata perasaan sakit ini.
Warna jingga itu menghiasi pagi ku seharusnya aku mampu
menatap pagi ini dengan senyum cerah saat aku sudah merencanakan untuk pergi
dan melepaskan senyuman hangatmu, bahkan seseorang disana yang selalu menanti
ku dengan nyata ku abaikan hanya karena aku terjatuh begitu dalam dalam sapaan
serta tingkah hangat kenyamanan yang kau berikan telah melampaui batas
kewajaranku, aku sudah terlalu jauh terjatuh kedalam hidupmu, kau torehkan
semua cerita indah, kau berikan kehangat dan kenyamanan itu namun semua itu
tiada kepastian, kau mampu menjadi sahabat teman kakak kekasih musuh bahkan panutanku, mungkin hanya aku yang
menganggap semua itu lebih. Aku mungkin akan mencoba kembali menatap orang yang telah ku abaikan, namun
saat itu kau kembali menghampiri ku menatap ku dengan ketidak pastian bertanya
dimana aku saat malam tadi, kau mencariku, benarkah kau mencari aku ??.
Kau merancau berkata aku tak peduli denganmu karena aku tak
datang , kau berkata aku tak peduli lagi denganmu aku berubah tak ada lagi
kehangatan untuk mu yang kuberikan, itu perkataanmu. …..
Hey sanggupkah aku melihatmu bahagia dengan gadis lain, kau
merancau kau menangis meminta ku agar
kembali menatapmu kembali menyapa dan menggenggam tanganmu. Membuat buliran
bening di pelupuk mataku kembali terjatuh, dan lagi lagi aku mengalah ,lalu
siapa ‘gadismu’ bagaimana ia jika kita terus seperti ini, semua pertanyaan itu
seolah harus aku telat bulat bulat tanpa harus menanti jawaban, yang ku tau
kini hanyalah kembali menatapmu dan kau tersenyum kembali menyapa ku dan
membuatku melihat ke arahmu lagi dan lagi .
Hari demi hari aku lewati dan ku pijaki dengan perasaan
sangat indah, kau selalu torehkan cerita yang berbeda,, perlahan aku sangat
mengenalmu angat tau bagaimana kau, begitupun sebaliknya…
Seiring berjalanya sang waktu aku mencoba melepasmu, mencoba tak
menghiraukan sapaan hangatmu, mencoba tak memperdulikan bagaimana tentangmu,
meskipun langkahku terseok saat itu terjadi saat aku harus berpura pura tak
menyapa mu setiap pagi siang atau malam. Saat itu kau sadar kau menarikku dan memberikan pertanyaan yang begitu menohok
kau bilang, ‘kau kemana, tak pernah menjawab sapaan ku, tak pernah menyapaku”
kau berkata kau menangis kau menjatuhkan buliran bening dari pelupuk matamu,
sebenarnya apa aku ini untukmu??. Kau
menahan ku pergi saat banyak wanita yang mendakatmu, namun kau pun tak
memintaku untuk tinggal seutuhnya di dekatmu.
Kau meminta aku berucap agar aku tak seperti ini, kau selalu
meminta agar aku selalu berada di
sampingmu di dekatmu, yaah aku lagi lagi
menuruti perkataanmu, aku kembali mengabaikan orang yang tengah menunggu ku
waktu itu, hingga sekarang orang yang menunggu ku itu pergi berlalu namun aku
tak peduli, aku terlalu focus dengan sosok hangatmu, meski aku tau terlalu
banyak wanita mengelilingimu , terlalu banyak fakta berbicara bahwa di luar
sana banyak gadis lain bersamamu di dekatmu, bahkan juga merasakan sapaan
hangatmu.
Kau selalu menyapa ku, menyapa dengan hangaaat dan
kehangatan itu selalu menjadi pupuk terindah yang mengawali pagi hari untukku,
seiring berjalan nya waktu banyak hal kita ketahui satu sama lain, kau banyak
bercerita begitu pun aku, sosokmu menjadi begitu hangat, kau bercerita tentang
gadis yang kau lepas, tentang satu wanita yang sudah kau lepas dan kini semakin
banyak lagi wanita yang berada di sekelilingmu, mungkinkah ini senja terakhirku
bersamamu, entah aku lelah , aku ingin pergi namun kembali kau menahan, namun
ku putuskan aku tetap pergi.
Beribu senja yang ku lalui tanpa sapaan hangat darimu,
membuat aku terus teringat akan sapaan hangatmu, akan sentuhan serta ocehan
klasik yang selalu kau lontarkan, kini yang ku tau kau berasama seorang wanita dan
aku pun bersama lelaki lain. Tak dapat ku pungkiri sosokmu terus menghantui
hari hari ku, bahkan taka da sedikit pun ruang untuk lelaki yang kini tengah
bersama ku, semua ruang itu telah dipenuhi oleh dirimu, bagaimana ini ??.
Bagaimana aku menyikapi ini semua?
Namun saat sosokmu kembali menyapaku, entah dari mana kau kembali
datang kau kembali dengan senyuman serta sapaan hangat yang terus berceloteh
indah . Kau memelukku erat menyapaku setiap saat memberikan ribuan kenyamanan
yang selalu terukir indah, entah apa ini kau selalu kembali yaah kembali lagi
di sampingku….
Sosok mu datang setiap detik aku membutuhkanmu, membuat
lelaki yang kini bersamaku menjauh,
lebih tepatnya aku menjauhkan diriku dari lelaki itu, aku kembali terhanyaut
dalam dirimu dalam dekapan hangat dan sikap mu. Kau berjanji tak akan kembali
meninggalkan aku, kau memberikan semua nya kali ini sepucuk mawar putih serta
celotehan dan dentingan piano yang terukir dari jari indahmu membuat ku terus
hanya terfokus pada sosok indahmu, namun tetap tak ada kepastian yang real yang
kau berikan yang kau utarakan, namun kau selalu berucap aku ini milikmu aku ini
kekasihmu, kau memperlakukan aku layaknya putri terindah dihidupmu, aku mencoba
menahannya tentu karena kebahagiaan yang menyelimuti ku, aku bahagia aku nyaman
aku tenang jika kau benar benar ada selalu menyapa ku selalu memberikan support
ataupun selalu menghiasi hari hari dalam hidupku.
Kau memutuskan hubungan dengan banyak wanita itu, satu
persata dari ‘wanita mu’ kau lepas, kau menatap ku, mungkinkah kau ingin aku, kau
ingin kita, Atau hanya karena rasa bosan mu terhadap wanita wanita mu itu,
entahlah……..
Kau hanya terus bungkam tak pernah berkata, hanya selalu
mengatakan kau tak akan meninggalkan aku, akan selalu seperti ini tak ada yang
berubah kau bilang aku lah kekasihmu, namun kapan tepatnya aku menjadi kekasihmu
pun tak kau berikan. Ada hal yang perlu kita selesaikan namun hingga saat ini
aku terlalu takut membahasnya, aku sangat mencintai mu terlalu sangat kau pun
sering berkata seperti itu meski terkadang aku tak paham dengann jalan
fikiranmu…
Namun kau harus tau, kau itu mampu membuat segalanya
berwarna untukku, aku mencintaimu, aku berharap kita akan terus seperti ini,
walau aku tau saat ini masih ada segelintir wanita di sekelilingmu, namun aku
percaya kau akan menjaga ku dan akan menepati setiap janjimu. Janjimu yang akan
terus mengalun hangat di sela sela tetesan hujan yang selalu menjadi saksi
kebisingan indah hidupku denganmu.
Kau selalu terselip di setiap doa yang ku hanturkan di
setiap sujud sembah ku di hadapan Tuhan. Aku ingin kau kembali meyakinkan aku
bahwa aku memang untukmu, aku ingin selalu bersama saling menyapa denganmu saat
Rintikan hujan turun ke permukaan bumi, aku ingin merasakan hangatnya pelukkanmu
di tengah dinginnya hujan yang membasahi bumi.
I Love You soo much
:’) ……………………..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar