Senin, 29 September 2014

Sapaan Dari sejuknya rintikan hujan



lagi da lagi selalu bercerita tentang ia, tentang  pria hujan....

hihihi gapapa kali ya :p

Rintikan hujan sore itu membawa sapaan hangat terlontar dari bibir indah itu, bibir yang selalu mengukir senyuman, dengan dihiasi oleh kedua bola mata sipitnya yang memandang dengan pancaran hangat,  ia selalu menyapa dengan penuh kehangatan nan lembut, perpaduan yang unik bukan?. Bahkan aku mungkin belum mengetahui sosoknya yang nyata, namun entahlah sapaan itu mampu membuat ku terlarut walaupun hanya sesaat.

Sapaan yang selalu mengalir setiap waktu pagi, malam, atau siang hari ketika matahari mampu memberikan sinar  triknya yang amat menyengat, namaun panas nya sinar orange itu tak menyurutkan aku untuk terus menunggu sapaan hangat itu, sejak awal bertemu yang ku tau kau begitu ramah dengan sapaan indah itu, mungkin terlalu klasik alasan ku saat ini terjatuh dalam pandangan bola mata sipit milikmu, bahkan aku belum mengetahui siapa kamu, bagaimana dirimu, bagaimana kau yang sebenarnya. Namun sudah terjatuh begitu cepatnya karena sapaan hangatmu yang selalu terlontar dengan hangat.

Awal desember  dimana sapaan di mulai, saat kau mungkin tak meganggap semua itu nyata semua itu terpatri tepat di limit otakku, selalu menghantui bahkan seperti heroin yang selalu menyelimuti menunggu bagaimana bisa bercengkrama hangat lagi dengamu, perkataan hangat, kepedulian sosokmu yang menjadikan ku mungkin terlalu dalam untuk melihatmu, untuk merasakan jika benar benar kau itu nyata tapi semua itu semu, dahulu semua itu semu.

Senyum kembali harus pudar ketika sapaan hangat itu ternyata bukan hanya milikku, terlalu banyak yang kau sapa dengan begitu hangat, mungkin aku yang terlalu berlebih mengganggap semua ini, mencoba bersikap layaknya air yang senantiasa tenang saat ia tak di usik. Kau kembali menyapa ku  dengan kepedulian yang teramat indah, kau berbicara layaknya tetesan hujan yang dengan sejuknya menyirami tanah bumi, yaah kau menyukai itu menyukai tangisan bumi, menyukai Rintikan hujan yang terus saja menyapu kota yang saat ini kita pijakki, kau menyukai hujan itu yang kutau, aku kembali membuka mata saat kau bercerita tentang  apa itu arti hujan, saat kau berbicara apa itu kedewasaan, kau berkata ‘dewasa itu sulit harus mengenal cinta dan cinta itu  rumit’ inikah dirimu, inikah engkau dengan sejuta penuh Tanya aku menatap mu, sepertinya salah satu rongga tubuhku kau bawa pergi saat hentakan kakimu dan punggung  tegapmu menjauh dari hadapanku untuk menemui seseorang di ujung jalan sana yang menunggumu, seorang wanita, yah wanita….

Mungkin aku menatap mu semu ,aku tau esok kau akan kembali lagi kesini, kembali menyapaku dengan sapaan kembali mengulurkan tanganmu untuk meraih dan menggenggam erat tanganku. Namun wanita yang kini berada di dekatmu membuat se eogok perasaan aneh mengalir di dinding relung jiwa ku, seperti tertohok aku menjatuhkan buliran bening di pelupuk mata ku sendiri, kesakitan itu, mengapa aku menangisi mu itu yang ku pertanyakan.

Benar bukan kau kembali dengan sapaan hangatmu dengan sentuhan lembutmu  itu, kau selalu memperdulikan aku  , namun malam itu kau Nampak berbeda sepucuk sapaan serta penuturan katamu terlontar begitu jelas, membuat seluruh persendian ku remuk, tak mampu lagi menopang diri , aku tau ini semua fake world, heey kau tau apa artinya bertemu denganmu di dunia ‘fake world’ membuat aku harus terjatuh, saat kau berkata ‘datanglah aku akan mengikat janji esok bersama gadis itu’ aku hanya mampu tersenyum pahit dan mengangguk menatap senyum sapa mu, mengamati tingkah lakumu yang se enaknya saja memperlakukan aku malam ini dengan istimewa layaknya aku adalah wanita untukmu, namun semua itu semu. Mungkinkah hanya akuh yang menatap itu berlebih, yaah mungkin itulah kesalahanku. seharusnya aku tak seperti itu, namun kau bisa apa ??

Kau tau aku hanya mampu melihat mu dari kejauhan mengawasi dirimu yang saat ini tengah bersenang senangg dengan ‘gadismu’ aku kembali harus menata semuanya, menata perasaan sakit ini.
Warna jingga itu menghiasi pagi ku seharusnya aku mampu menatap pagi ini dengan senyum cerah saat aku sudah merencanakan untuk pergi dan melepaskan senyuman hangatmu, bahkan seseorang disana yang selalu menanti ku dengan nyata ku abaikan hanya karena aku terjatuh begitu dalam dalam sapaan serta tingkah hangat kenyamanan yang kau berikan telah melampaui batas kewajaranku, aku sudah terlalu jauh terjatuh kedalam hidupmu, kau torehkan semua cerita indah, kau berikan kehangat dan kenyamanan itu namun semua itu tiada kepastian, kau mampu menjadi sahabat teman kakak kekasih  musuh bahkan panutanku, mungkin hanya aku yang menganggap semua itu lebih. Aku mungkin akan mencoba kembali  menatap orang yang telah ku abaikan, namun saat itu kau kembali menghampiri ku menatap ku dengan ketidak pastian bertanya dimana aku saat malam tadi, kau mencariku, benarkah kau mencari aku ??. 

Kau merancau berkata aku tak peduli denganmu karena aku tak datang , kau berkata aku tak peduli lagi denganmu aku berubah tak ada lagi kehangatan untuk mu yang kuberikan, itu perkataanmu. …..
Hey sanggupkah aku melihatmu bahagia dengan gadis lain, kau merancau kau menangis  meminta ku agar kembali menatapmu kembali menyapa dan menggenggam tanganmu. Membuat buliran bening di pelupuk mataku kembali terjatuh, dan lagi lagi aku mengalah ,lalu siapa ‘gadismu’ bagaimana ia jika kita terus seperti ini, semua pertanyaan itu seolah harus aku telat bulat bulat tanpa harus menanti jawaban, yang ku tau kini hanyalah kembali menatapmu dan kau tersenyum kembali menyapa ku dan membuatku melihat ke arahmu lagi dan lagi . 

Hari demi hari aku lewati dan ku pijaki dengan perasaan sangat indah, kau selalu torehkan cerita yang berbeda,, perlahan aku sangat mengenalmu angat tau bagaimana kau, begitupun sebaliknya…
Seiring berjalanya sang waktu  aku mencoba melepasmu, mencoba tak menghiraukan sapaan hangatmu, mencoba tak memperdulikan bagaimana tentangmu, meskipun langkahku terseok saat itu terjadi saat aku harus berpura pura tak menyapa mu setiap pagi siang atau malam. Saat itu kau sadar kau menarikku  dan memberikan pertanyaan yang begitu menohok kau bilang, ‘kau kemana, tak pernah menjawab sapaan ku, tak pernah menyapaku” kau berkata kau menangis kau menjatuhkan buliran bening dari pelupuk matamu, sebenarnya apa aku ini untukmu??.  Kau menahan ku pergi saat banyak wanita yang mendakatmu, namun kau pun tak memintaku untuk tinggal seutuhnya di dekatmu.

Kau meminta aku berucap agar aku tak seperti ini, kau selalu meminta  agar aku selalu berada di sampingmu di dekatmu, yaah aku  lagi lagi menuruti perkataanmu, aku kembali mengabaikan orang yang tengah menunggu ku waktu itu, hingga sekarang orang yang menunggu ku itu pergi berlalu namun aku tak peduli, aku terlalu focus dengan sosok hangatmu, meski aku tau terlalu banyak wanita mengelilingimu , terlalu banyak fakta berbicara bahwa di luar sana banyak gadis lain bersamamu di dekatmu, bahkan juga merasakan sapaan hangatmu.

Kau selalu menyapa ku, menyapa dengan hangaaat dan kehangatan itu selalu menjadi pupuk terindah yang mengawali pagi hari untukku, seiring berjalan nya waktu banyak hal kita ketahui satu sama lain, kau banyak bercerita begitu pun aku, sosokmu menjadi begitu hangat, kau bercerita tentang gadis yang kau lepas, tentang satu wanita yang sudah kau lepas dan kini semakin banyak lagi wanita yang berada di sekelilingmu, mungkinkah ini senja terakhirku bersamamu, entah aku lelah , aku ingin pergi namun kembali kau menahan, namun ku putuskan  aku tetap pergi.

Beribu senja yang ku lalui tanpa sapaan hangat darimu, membuat aku terus teringat akan sapaan hangatmu, akan sentuhan serta ocehan klasik yang selalu kau lontarkan, kini yang ku tau kau berasama seorang wanita dan aku pun bersama lelaki lain. Tak dapat ku pungkiri sosokmu terus menghantui hari hari ku, bahkan taka da sedikit pun ruang untuk lelaki yang kini tengah bersama ku, semua ruang itu telah dipenuhi oleh dirimu, bagaimana ini ??. Bagaimana aku menyikapi ini semua?

 Namun saat sosokmu  kembali menyapaku, entah dari mana kau kembali datang kau kembali dengan senyuman serta sapaan hangat yang terus berceloteh indah . Kau memelukku erat menyapaku setiap saat memberikan ribuan kenyamanan yang selalu terukir indah, entah apa ini kau selalu kembali yaah kembali lagi di sampingku….

Sosok mu datang setiap detik aku membutuhkanmu, membuat lelaki yang kini bersamaku  menjauh, lebih tepatnya aku menjauhkan diriku dari lelaki itu, aku kembali terhanyaut dalam dirimu dalam dekapan hangat dan sikap mu. Kau berjanji tak akan kembali meninggalkan aku, kau memberikan semua nya kali ini sepucuk mawar putih serta celotehan dan dentingan piano yang terukir dari jari indahmu membuat ku terus hanya terfokus pada sosok indahmu, namun tetap tak ada kepastian yang real yang kau berikan yang kau utarakan, namun kau selalu berucap aku ini milikmu aku ini kekasihmu, kau memperlakukan aku layaknya putri terindah dihidupmu, aku mencoba menahannya tentu karena kebahagiaan yang menyelimuti ku, aku bahagia aku nyaman aku tenang jika kau benar benar ada selalu menyapa ku selalu memberikan support ataupun selalu menghiasi hari hari dalam hidupku. 

Kau memutuskan hubungan dengan banyak wanita itu, satu persata dari ‘wanita mu’ kau lepas, kau menatap ku, mungkinkah kau ingin aku, kau ingin kita, Atau hanya karena rasa bosan mu terhadap wanita wanita mu itu, entahlah……..
Kau hanya terus bungkam tak pernah berkata, hanya selalu mengatakan kau tak akan meninggalkan aku, akan selalu seperti ini tak ada yang berubah kau bilang aku lah kekasihmu, namun kapan tepatnya aku menjadi kekasihmu pun tak kau berikan. Ada hal yang perlu kita selesaikan namun hingga saat ini aku terlalu takut membahasnya, aku sangat mencintai mu terlalu sangat kau pun sering berkata seperti itu meski terkadang aku tak paham dengann jalan fikiranmu…

Namun kau harus tau, kau itu mampu membuat segalanya berwarna untukku, aku mencintaimu, aku berharap kita akan terus seperti ini, walau aku tau saat ini masih ada segelintir wanita di sekelilingmu, namun aku percaya kau akan menjaga ku dan akan menepati setiap janjimu. Janjimu yang akan terus mengalun hangat di sela sela tetesan hujan yang selalu menjadi saksi kebisingan  indah hidupku denganmu.
Kau selalu terselip di setiap doa yang ku hanturkan di setiap sujud sembah ku di hadapan Tuhan. Aku ingin kau kembali meyakinkan aku bahwa aku memang untukmu, aku ingin selalu bersama saling menyapa denganmu saat Rintikan hujan turun ke permukaan bumi, aku ingin merasakan hangatnya pelukkanmu di tengah dinginnya hujan yang membasahi bumi.

 I Love You soo much :’) ……………………..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar