Jumat, 19 September 2014

Fatamorgana dari seogok gerimis pagi



Sejuknya gerimis pagi mampu menusuk permukaan kulit,namun karena kesejukan itulah setiap insan mampu menghirup setiap persedian oksigen dengan sangat sempurna. Perpaduan yang indah antara gerimis pagi dengan udara kesejukkan mampu melengkapi hingar bingar dunia yang panas, namun jika gerimis pagi itu telah dinodai oleh pancaran triknya sinar matahari mampukah kesejukkan itu tetap bertahan? , mampukah kesejukan itu tetap ada disana menemani gerimis pagi agar menjadi perpaduan yang melebihi kata sempurna.
Terkadang  fatamorgana hanya mampu memantul jelas di depan mata, namun tak dapat dirasakan secara nyata, terlebih saat gerimis pagi datang kesejukkan pun turut ikut menemaninya membuat matahari pagi tak Nampak dan hanya terllihat seperti sekelebat fatamorgana yang semu, apa  mungkin aku kini menjadi matahari pagi ?. Yang hanya mampu merusak perpaduan gerimis dan kesejukkan pagimu, yang hanya mampu melihatmu dengan semu saat kau beriringan jalan dengan ‘kesejukkan’ yang telah menjadi satu paket  cipataan Tuhan yang telah ditentukkan.

Sanggupkah aku merusak itu semua, merusak genggaman erat antara kau dan wanita itu, mampukah aku merusaknya, setega itu kah aku merusaknya?Hati wanita mana yang tak hancur jika seorang imamnya telah terenggut bahkan ternodai wanita lain, aku pun wanita yang  mampu merasakan itu, aku tak ingin merebutmu dari wanita’mu’ yaah wanita mu…..

Namun mengapa sosok gerimis pagi mu mampu menyembuhkan aku dari segala penat yang mengelilingi ku, mampu menopangku untuk tetap berdiri, sosokmu begitu indah, namun lagi lagi aku harus menyadari kau hanya fatamorgana untukku, aku hanya mampu menjadi ‘wanita kedua’ untukmu.

Terlalu menyakitkan menyebut diriku sendiri seperti itu, heeey apa kau fikir aku tak terbawa hembusan angin sejuk saat kau selalu bersama gadis pertamamu, kesejukkan yang kau pancarkan terlalu dingin sehingga membekukkan segala persendian tubuhku, aku harus apa?
Apa aku harus diam, dan menatapmu seperti porselin??
Kepiawanmu membawaku terlalu dalam terbawa arus tatapan hangat mata indah yang kau milikki.Mampukah aku selalu menjadi sosok kedua untukmu, bagaimana jika wanita pertama mu mengetahui ini, ??
Layaknya kaca setiap wanita terlihat kokoh terlihat cerah bahkan ia mampu terlihat kuat, namun saat ia dihancurkan mampukah kaca itu kembali utuh? mampukah tiada lagi goresan goresan kecil itu membekas?. Jawabannya pasti tidak akan bisa ,setiap goresan itu akan selalu ada kehancuran itu akan selalu berbekas. seperti itulah hati seorang wanita. Tuhan menciptakannya begitu apik, begitu sempurna .Namun apabila wanita itu telah merebut sepasang anak manusia yang telah ditakdirkan bersama, apa masih mampukah wanita itu memiliki hati seperti kaca..??

Tuhan, aku ingin lari dari kenyataan ini, aku tidak ingin terus terusaan menjadi matahari yang merusak kesempurnaan dari gerimis pagi dan kesejukkannya, namun lagi lagi gerimis pagi itu membuat matahari selalu ingin muncul selalu ingin berdampingan bersama gerimis pagi itu, meski terlalu banyak awan putih yang seperti rintangan yang membuat gerimis pagi dan matahari tak dapat berdampingan……….

Tuhan mungkin ini semua scenario hidup yang kau berikan, bimbing aku bimbing aku mencari lelaki yang benar benar mampu menjadi jembatan untuk menuju syurgamu….
Bukan lelaki yang sudah memiliki garis untuk hidupnya, leyapkanlah kesejukkan pagi itu jika memang dia kelak menjadi jembatan syurgaku, namun leyapkan aku dalam hubungan ini jika memang bukan dia lah jembatan syurgaku…..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar