15 September 2014
Kepergianmu,.
Kepergian sosok pria hujanku
DI hari ini, di tanggal yang sama seperti bulan lalu aku
masih mampu mengingat bagaimana air mata terus terjatuh bagaimana kaki ini
melemas saat melihat pria-ku . Pria penyuka hujanku yang selalu mempunyai sisi
terindah terpejam tertidur tenang
dan meninggalkanku. Masih dengan jelas tergambar air mata yang hingga kini
belum mongering dan selalu berajak keluar ketika selalu mengingat moment moment
terindah bersama pria itu.
Tak dapat di pungkiri rasa rindu rasa tak rela itu
selalu membelenggu ketika pria itu meninggalkanku . Tak ada kata lain yang
mampu ku ungkapkan lagi ketika bersamanya, melebihi kata bahagia jika aku mampu
terus bersamanya.
Namun mengapaa sepertinya takdir Tuhan membuat kami
berjauhan , mengapa begitu cepat Tuhan meminta pria ku kembali dan
meninggalkanku. Dengan langkah yang masih terseok tak seharusnya aku mengeluh,
mencoba mengikhlaskan itu bukanlah hal yang mudah . Tapi bukankah itu semua
sudah terjadi. Apa yang harus kulakukan huum?
Tentunya harus tetap melangkah melanjutkan hidupku, namun
lagi lagi aku kembali terjatuh saat tak ada lagi sosok seperti pria hujanku
yang selalu membantuku berdiri membantuku berjalan dan memberikan tutur kasih
sayang serta support . Aku membutuhkan sungguh membutuhkan nya seperti dulu ,
membutuhkan peluk hangat tangannya, membutuhkan uluran tangannya serta
celotehan celotehan hangat yang tertuang langsung dari bibirnya.
Aku kehilangan sosoknya, aku kehilangan penyemangat dan
penyangga hidupku. Namun aku harus kembali berdiri sendiri demi ibuku, yah demi
wanita yang telah melahirkanku aku harus kuat menahan segala keluh kesah,
menahan segala amarah dan masalah. Kini tak ada lagi sosok itu, tak ada lagi
sosok tempat istirahatku, tempat ku untuk menyandarkan tubuh dari rasa lelah.
aku merindukannya, merindukkan pria penyuka hujanku, merindukkan tatapan
hangatnya dari balik mata sipit yang ia miliki, aku merindukkan senyum
hangatnya serta bibir tebalnya yang selalu mengeluarkan ocehan ocehan bising
yang mampu membuatku selalu tertawa senang.
Tuhan bagaimana mungkin aku melewati ini, melewati setiap
pertengkaran dan masalah yang selalu datang tanpa pria itu, selama ini ia yang
selalu memberi ku semangat selalu membantuku aku bergantung padanya. Apakah ini
semua berlebihan entahlah aku sendiri tak paham, aku sudah terlalu lama bersama
nya, terlalu banyak hal yang kami lewati bersama, terlalu lama aku menjali
rutinitas bersamanya. Aku terbiasa dengannya dengan pria itu.
Masih teringat sampai sekarang bagaimana tangan hangatnya
selalu menyentuh tanganku, selalu memelukku ketika menangis ketika aku kalut
dan takut terhadap kilatan cahaya langit ketika hujan turun. Aku masih mampu
merasakan bagaimana hembusan nafasnya, bagaimana suara serta aroma tubuhnya.
Sungguh sangat sungguh aku bukan hanya merindukkannya, aku
membutuhkannya. Membutuhkan support darinya. Wejangan wejangan serta segala
perlakuan terindah darinya. Masih terus terukir indah ketika saat itu kami
bercanda pada segelas jus mangga yang mampu membuat kami terbahak bahak
tertawa, hanya dengan satu canda hangat di ujung senja. Saat tangan kekarnya
kebali mengelus rambutku mengacaknya dengan perlahan . Aku merindukkan
perlakuan itu, saat aku menangis dan merengek memeluk manja terhadap dirinya ketika
aku menemui suatu masalaha terhadap teman ataupun ayah ku sendiri.
Aku
memeluknya manja sembari menangis, dengan telaten tangan kekarnya selalu
memberikan pelukkan ocehan ocehan serta sapaan yang keluar dari bibirnya selalu
mampu membuatku sedikit tenang.
Saat ia kembali membimbingku untuk selalu menunjukkan jalan
kebenaran, ketika sosoknya selalu berada di sampingku selalu mendampingi .
Bahkan keberadaannya selalu kubutuhkan dan tak akan pernah ada yang bisa
menjadi dirinya. Kenapa pria itu begitu cepat meninggalkanku begitu cepat
tertidur untuk selamanya. Padahal ia berjanji tak akan pergi sebelum aku yang
menyuruhnya tapi mengapa sekarang ia pergi??
Bukankah pria itu sudah melanggar janjinya, ia selalu
berpesan untuk aku tak selalu menangis, namun bagaimana bisa air mata ini tak
selalu mencuat ketika aku tak memiliki lagi semangat yang selalu membantuku.
Teman??
Persetan dengan kata kata teman, apakah mereka mampu menjadi
sosok seperti pria hujanku, tidak tidak sama sekali mereka tak mampu seperti itu,
mungkin mereka hanya mampu menilai dari luar bertanya tanpa sedikit pun rasa
care hanya keingin tahuan yang mereka inginkan bukan suatu perhatian atupun
care. Mereka hanya mampu mengolok olok hanya mampu mengoceh dan terus berjanji
blab la bla….
Berjanji tentang apa yang mereka inginkan, selalu berkata
akan selalu menemaniku ketika sosok pria hujanku pergi. Tapi nyatanya saat ini
apa mereka memenuhi janji itu. Tidak tidak sama sekali mereka sibuk dengan
kehidupan mereka Mereka menakana diri mereka temanku,. haaah teman bukankah itu
perlu di pertanyakan
Tidak aku bahkan tidak membenci mereka mereka pun memiliki
kehidupan serta aktifitas tersendiri, tapi tak seharusnya mereka berjanji
seperti itu, berjanji akan sellau ada yang naytanya mereka sama sekali tak
memperdulikanku. Aku muak sangat muak. mereka berbeda dengan pria hujanku.
Aku merasa seperti kini aku sedang berada di titik jenuh
dalam kehidupan. Aku hanay mampu bersujud berdoa di atas sajadah panjangMu
Tuhan bantu aku, jujur aku sangat ingin bertemu dengan pria hujanku, jika kau
boleh meminta kembalikan dia Tuhan kembalikan pria hujanku.
Hanya menjadi dua factor untukku menjadi sukses saat ini,
mampu melihat senyum bahagia dan senyum bangga di wajah ibuku dan wajah pria
itu. Pria hujanku. aku sangat mencintai kedua orang itu. Hanya mereka berdualah
yang selalu menjadi alasan ku untuk menuju kesuksesan….
Aku terlalu muak dengan masalah yang selalu datang, selama
ini aku selalu bisa mengatasinya selalu mampu karena pria itu selalu disampngku
selalu memeberikan semangat serta memberikan bahu tegapnya menerima segala
keluh kesah ku . Namun kini siapa lagi yang mampu memberikan kenyamanan itu,
apakah ini jalanmu Tuhan untuk menjadikan ku lebih dewasa??
Bantu aku Tuhan untuk menerimana, aku harus mampu menatasi
segala masalah ini, tanpa bantuan siapapun. Tuhan aku sadar aku sangat lemah
tanpaMu bahkan aku tak memilik apapun. Aku hanya meminta satu kembalikan Pria
hujanku, tapi itu tidak mungkin. Ia sudah tenang…….
Aku hanya terus berharap dan dapat segera menyelesaikan
tugasku di dunia untuk membahagiakan ibu, yaah hanya itu. Pria hujanku sungguh
aku sangat membutuhkan sosokmu, sangat merindukanmu…..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar