Jumat, 19 September 2014

Gone



15 September 2014

Kepergianmu,.

Kepergian sosok pria hujanku

DI hari ini, di tanggal yang sama seperti bulan lalu aku masih mampu mengingat bagaimana air mata terus terjatuh bagaimana kaki ini melemas saat melihat pria-ku . Pria penyuka hujanku yang selalu mempunyai sisi terindah terpejam tertidur tenang dan meninggalkanku. Masih dengan jelas tergambar air mata yang hingga kini belum mongering dan selalu berajak keluar ketika selalu mengingat moment moment terindah bersama pria itu. 

Tak dapat di pungkiri rasa rindu rasa tak rela itu selalu membelenggu ketika pria itu meninggalkanku . Tak ada kata lain yang mampu ku ungkapkan lagi ketika bersamanya, melebihi kata bahagia jika aku mampu terus bersamanya.

Namun mengapaa sepertinya takdir Tuhan membuat kami berjauhan , mengapa begitu cepat Tuhan meminta pria ku kembali dan meninggalkanku. Dengan langkah yang masih terseok tak seharusnya aku mengeluh, mencoba mengikhlaskan itu bukanlah hal yang mudah . Tapi bukankah itu semua sudah terjadi. Apa yang harus kulakukan huum?

Tentunya harus tetap melangkah melanjutkan hidupku, namun lagi lagi aku kembali terjatuh saat tak ada lagi sosok seperti pria hujanku yang selalu membantuku berdiri membantuku berjalan dan memberikan tutur kasih sayang serta support . Aku membutuhkan sungguh membutuhkan nya seperti dulu , membutuhkan peluk hangat tangannya, membutuhkan uluran tangannya serta celotehan celotehan hangat yang tertuang langsung dari bibirnya.

Aku kehilangan sosoknya, aku kehilangan penyemangat dan penyangga hidupku. Namun aku harus kembali berdiri sendiri demi ibuku, yah demi wanita yang telah melahirkanku aku harus kuat menahan segala keluh kesah, menahan segala amarah dan masalah. Kini tak ada lagi sosok itu, tak ada lagi sosok tempat istirahatku, tempat ku untuk menyandarkan tubuh dari rasa lelah. aku merindukannya, merindukkan pria penyuka hujanku, merindukkan tatapan hangatnya dari balik mata sipit yang ia miliki, aku merindukkan senyum hangatnya serta bibir tebalnya yang selalu mengeluarkan ocehan ocehan bising yang mampu membuatku selalu tertawa senang. 

Tuhan bagaimana mungkin aku melewati ini, melewati setiap pertengkaran dan masalah yang selalu datang tanpa pria itu, selama ini ia yang selalu memberi ku semangat selalu membantuku aku bergantung padanya. Apakah ini semua berlebihan entahlah aku sendiri tak paham, aku sudah terlalu lama bersama nya, terlalu banyak hal yang kami lewati bersama, terlalu lama aku menjali rutinitas bersamanya. Aku terbiasa dengannya dengan pria itu.

Masih teringat sampai sekarang bagaimana tangan hangatnya selalu menyentuh tanganku, selalu memelukku ketika menangis ketika aku kalut dan takut terhadap kilatan cahaya langit ketika hujan turun. Aku masih mampu merasakan bagaimana hembusan nafasnya, bagaimana suara serta aroma tubuhnya. 

Sungguh sangat sungguh aku bukan hanya merindukkannya, aku membutuhkannya. Membutuhkan support darinya. Wejangan wejangan serta segala perlakuan terindah darinya. Masih terus terukir indah ketika saat itu kami bercanda pada segelas jus mangga yang mampu membuat kami terbahak bahak tertawa, hanya dengan satu canda hangat di ujung senja. Saat tangan kekarnya kebali mengelus rambutku mengacaknya dengan perlahan . Aku merindukkan perlakuan itu, saat aku menangis dan merengek memeluk manja terhadap dirinya ketika aku menemui suatu masalaha terhadap teman ataupun ayah ku sendiri. 

Aku memeluknya manja sembari menangis, dengan telaten tangan kekarnya selalu memberikan pelukkan ocehan ocehan serta sapaan yang keluar dari bibirnya selalu mampu membuatku sedikit tenang.
Saat ia kembali membimbingku untuk selalu menunjukkan jalan kebenaran, ketika sosoknya selalu berada di sampingku selalu mendampingi . Bahkan keberadaannya selalu kubutuhkan dan tak akan pernah ada yang bisa menjadi dirinya. Kenapa pria itu begitu cepat meninggalkanku begitu cepat tertidur untuk selamanya. Padahal ia berjanji tak akan pergi sebelum aku yang menyuruhnya tapi mengapa sekarang ia pergi??
Bukankah pria itu sudah melanggar janjinya, ia selalu berpesan untuk aku tak selalu menangis, namun bagaimana bisa air mata ini tak selalu mencuat ketika aku tak memiliki lagi semangat yang selalu membantuku. 

Teman??

Persetan dengan kata kata teman, apakah mereka mampu menjadi sosok seperti pria hujanku, tidak tidak sama sekali mereka tak mampu seperti itu, mungkin mereka hanya mampu menilai dari luar bertanya tanpa sedikit pun rasa care hanya keingin tahuan yang mereka inginkan bukan suatu perhatian atupun care. Mereka hanya mampu mengolok olok hanya mampu mengoceh dan terus berjanji blab la bla….

Berjanji tentang apa yang mereka inginkan, selalu berkata akan selalu menemaniku ketika sosok pria hujanku pergi. Tapi nyatanya saat ini apa mereka memenuhi janji itu. Tidak tidak sama sekali mereka sibuk dengan kehidupan mereka Mereka menakana diri mereka temanku,. haaah teman bukankah itu perlu di pertanyakan
Tidak aku bahkan tidak membenci mereka mereka pun memiliki kehidupan serta aktifitas tersendiri, tapi tak seharusnya mereka berjanji seperti itu, berjanji akan sellau ada yang naytanya mereka sama sekali tak memperdulikanku. Aku muak sangat muak. mereka berbeda dengan pria hujanku.

Aku merasa seperti kini aku sedang berada di titik jenuh dalam kehidupan. Aku hanay mampu bersujud berdoa di atas sajadah panjangMu Tuhan bantu aku, jujur aku sangat ingin bertemu dengan pria hujanku, jika kau boleh meminta kembalikan dia Tuhan kembalikan pria hujanku.

Hanya menjadi dua factor untukku menjadi sukses saat ini, mampu melihat senyum bahagia dan senyum bangga di wajah ibuku dan wajah pria itu. Pria hujanku. aku sangat mencintai kedua orang itu. Hanya mereka berdualah yang selalu menjadi alasan ku untuk menuju kesuksesan….

Aku terlalu muak dengan masalah yang selalu datang, selama ini aku selalu bisa mengatasinya selalu mampu karena pria itu selalu disampngku selalu memeberikan semangat serta memberikan bahu tegapnya menerima segala keluh kesah ku . Namun kini siapa lagi yang mampu memberikan kenyamanan itu, apakah ini jalanmu Tuhan untuk menjadikan ku lebih dewasa??

Bantu aku Tuhan untuk menerimana, aku harus mampu menatasi segala masalah ini, tanpa bantuan siapapun. Tuhan aku sadar aku sangat lemah tanpaMu bahkan aku tak memilik apapun. Aku hanya meminta satu kembalikan Pria hujanku, tapi itu tidak mungkin. Ia sudah tenang…….

Aku hanya terus berharap dan dapat segera menyelesaikan tugasku di dunia untuk membahagiakan ibu, yaah hanya itu. Pria hujanku sungguh aku sangat membutuhkan sosokmu, sangat merindukanmu…..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar