Jumat, 19 September 2014

fanfiction "The First Snow"




The first Snow..

FF             “THE FIRST SNOW”

Genre   : Angst, Sad,Romance

Cast      : Shin Min Ah
                Lee Sang Yoon
                Cho kyuhyun,
                 Byun Baekhyun
                Park Yeon Joo
                 And All


Salju.

 Begitu indahkah benda putih itu melintasi da menghiasi setiap permukiman kota. Walaupun terkadang salju itu terlihat dingin, namun coba kau menyentuhnya perlahan kau akan merasakan kehangatan jarena rasa kenyamanan dan keindahan yang terpancar, dihari pertama salju itu turun aku mampu menemukan sosok terindah yang menjadi warna terhangat yang mampu menyinari dan menemani diriku di tengah dinginnya angin yang menerpa di tengah salju.Bahkan setiap moment yang kulalui selalu terasa lebih indah bila salju salju itu turun ……

17 November 2014

Detik ini juga seorang gadis tengah tersenyum puas, setelah mendapatkan gelar sarjana dari salah satu university terkenal di seoul. Gadis itu memeluk erat kedua orang tuanya, ia tersenyum menatap segala keberhasilan dalam hidupnya, setelah kurang lebih tiga tahun mengejar ilmu pendidikan dalam ilmu psikologis. Yeoja itu melepas topi toganya, saat melihat sosok pria bertubuh tegap, menghampirinya, membawa satu kotak hadiah berwarna biru tua dihadapannya

“Chukkae shin min ah” pria berambut hitam itu menyerahkan sebuah kotak  dan secara bersamaan membenarkan letak syal putih yang menutupi lehernya, untuk menghalang segala rasa dingin yang menyeruak memenuhi seluruh tubuhnya
“gomawo.” gadis beranama shin min ah itu segera berhambur dalam pelukkan pria yang amat sangat ia kenali
“,Kau lihat sepertinya salju pertama tahun ini telah turun, pas sekali dengan moment wisuda mu kali ini eoh”
“Ne kau benar, salju itu selalu hadir di tengah rasa senang maupun rasa sedihku, aku menyukainya” Min- ah meneteskan air matanya, kebahagiannya kembali terkumpul, setelah beberapa lama ia sangat trauma ia sangat tak menyukai sosok salju karena satu hal yang saat ini sangat tak ingin ia ingat, akhirnya gadis itu kembali menyukai salju, yaah memang sejak dulu gadis itu teramat menyukai salju, namun suatu hal membuatnya membenci salju . Tapi saat ini yeoja itu telah kembali menemukan kebahagiannya yang sesungguhnya, ia tersenyum dan perlahan melepas pelukkan hangat dari seorang pria yang hingga kini terus menatapnya

“Kau tak ingin membuka hadiah dariku” Pria itu berjalan perlahan menuntun min – ah untuk segera menuju gerbang kampus, untuk segera kembali kerumah karena perayaan kelulusan wisudanya telah berakhir
“geure aku akan membukanya” Min ah menghentikan segala langkah kakinya, saat perlahan gadis itu membuka isi kotak berwarna biru, ia menghentikan langkahnya saat seuntai buku diary berada di tangannya, ia sangat mengetahui buku ini milik siapa.
“dari mana kau menemukan ini” Entah apa yang membuatnya kini menangis, min ah tertunduk dan menatap sebuah buku diary yang sangat tebal bersampul putih gading yang berada di tangannya, ini buku miliknya sendiri, diary yang telah ia buang , karena ia tak ingin mengulang kesalahan pahit lagi dalam hidupnya, inilah diary yang memulai perjalanan hidupnya
“apa kau tak suka dengan hadiahku” pria itu mengangkat wajah min ah, menghapus perlahan air mata yang mulai mengalir deras di pipi putih gadis yang amat ia cintai. ia tak ingin melihat air mata itu terus menyeruak keluar. Ia hanya ingin min ah terlihat lebih kuat, karena ia sngat tau sosok gadis di hadapannya kini amatlah rapuh, belum sepenuhnya min ah dapat melupakan segala masa lalulunya meskipun kini gadis itu telah bersamanya
“aniya aku menyukainya, aku akan membacanya, kau benar aku tidak mungkin melupakannya, aku hanya perlu berjalan lurus kedepan menatap hidupku denganmu” min ah menatap kedua mata cokelat yang kini berada sangat dekat dengan wajahnya, Perlahan gadis itu membaca lemabar demi lembar tulisan tangannya sendiri yangberada di buku tersebut. Membuka kembali semua memori besar dalam hidupnya. Shin min ah mulai membaca tulisan tulisan itu dan kembali mengingat kejadian kejadian yang tak akan pernah ia lupakan

*****

Lembar Kesepuluh
15 November 2010
“Yeey lagi lagi salju pertama turun, hari ini lee sang yoon mengajakku kembali pergi, aku harus kembali bersiap. Inilah rutinitasku dengan sang yoon selalu melalui hari bersama sama salju pertama turun. Lee sang yoon gidaryeo”

 Gordeng biru langit itu masih sama, masih terus bergoyang perlahan karena terpaan angin yang menusuk masuk melalui celah pori pori ventilasi jendela sebuah kamar yang di dominasi dengan wanra merah muda, kamar seorang gadis yang kini tengah asik bergulat di tempat tidur dengan di tutupi selimut berbulu yang amat tebal dengan warna senada dengan kamar pribadinya. Sekali lagi gadis itu menggeliat perlahan menampakan wajah kusutnya, dan kembali mengerjapkan matanya saat ia kembali merasakan angin musim dingin amat menusuk tubuhnya, perlahan gadis itu menoleh melihat meja yang berada di samping ranjangnya.

Menggapai gapai benda putih, smarthphone miliknya, tersenyum sesaat saat satu pesan menyapanya pagi ini. Ia kembali membelalakan matanya saat sebuah desiran terlintas di hadapannya, sebuah salju. 

Gadis itu baru ingat inilah salju pertama di tahun 2010. Gadis berambut hitam yang kini tengah sibuk menguncit rambutnya untuk segera menuju balkon kamarnya melakukan rutinitas tahunan yang selalu ia lakukan. Gadis itu melonjak kegirang , entah mengapa ia teramat menyukai salju terlebih saat pertama kali salju itu turun di setiap tahunnya. Tak jarang bahkan ketika musim salju itu telah habis, gadis itu meringkuk menangis.. Seperti anak kecil ia seharusnya senang menyambut musim panas karena hari libur dengan senang hati, namun tidak dengan gadis yang saat ini baru saja menyelesaikan ujian tingkat sekolah atasnya gadis itu malah menangis tersedu setiap musim panas tiba, karena itu membuatnya tak bisa melihat salju yang sangat ia gemari.

Shin min ah Pov….
Yaah pagi ini, aku kembali merasakan salju, yeeaah salju pertama telah turun,  bukankah indah. aku segera melompat dari atas ranjang untuk segera melihat penadangan indah salju dari atas balkon.
OMO, dimana sandal beruangku, ?. Aigoo inilah indahnya salju, aku mencoba meraih buliran putih salju itu, terlihat dari berbagai atap toko yang tengah di tutupi banyaknya buliran salju, Aku harap matahari hari ini tak akan bersinar  trik, aku tak ingin matahari itu terus mencairkan salju yang akan turun nantinya. 

Gadis berambut hitam sebahu itu, yang tak lain bernama Shin min ah perlahan memoleskan lipstick pink muda yang kini sudah menempel apik pada bibir indahnya, gadis itu menepuk sesaat short dress Biru muda yang tengah di pakainya, tak lupa gadis itu menarik mantel cokelat yang telah di gantung di balik pintu kamarnya, dengan sedikit berlari gadis muda itu menuruni anak tangga rumahnya, tak ia perdulikkan teriakan ibunya yang memanggilnya untuk hanya sekdera menyantap bubur sup daging sapi yang masih hangat. gadis itu lebih memilih tersenyum sesaat sebelum  ia kembali hilang di balik pintu untuk segera menuju suatu tempat, ia sangat yakin ia sudah terlambat lima belas menit.

“Mianhae apa kau telah lama” Shin min ah mengatur nafasnya yang tengah tersengal, gadis itu baru saja memasuki sebuah coffe shop yang berada di pinggir kota seoul. Seolah mengetahui tatapan lawan bicaranya akan segera mengamuk karena keterlambatannya, min ah hanya bisa tersenyum hambar menanggapi tatapan mengerikan dari seseorang yang kini tengah mengangkat gelas berisakan coffe hangat, dengan kepulan asap yang tengah mengapung di atas gelas tersebut.

“Haihhs butuh berapa lama lagi untuk kau berlama lama merapihkan rambutmu eoh, aku sudah lama menunggu” Pria berpostur tubuh tinggi yang kini duduk di hadapan min ah, menolehkan kepalanya, melihat sosok gadis yang amat ia kenal tengah berdiri terpaku menatapnya dengan rasa bersalah. Hampir satu jam lebih ia menungu min ah gadis manja yang sangat ia pahami.
“aah geure, maafkan aku ne, kau tau kan hari ini salju pertama apa kau lupa eoh’” min ah mengambil posisi untuk mendaratkan bokongnya di salah satu sofa yang berada di dekatnya. Sofa cokelat dengan ukiran kayu yang memperindah bentuk sofa tersebut. ia menelan ludahnya saat telah melihat pancake cokelat yang berada di hadapannya. Ternyata pria ini telah memesankan untuknya, hatinya tersenyum kegirangan
“huum baiklah” Pria bernaama lee sang yoon, hanya kembali terfokus kepada min ah yang tengah sibuk menatap pancake yang di hadapannya, pria itu menyunggingkan senyum saat meilhat tatapan lapar secar  jelas terpancar dari raut gadisnya. Gadis yang telah menemaninya hampir seperempat hidupnya kini. Gadis kecil yang dulu ia temui teman masa kecilnya, gadis manja dan cengeng yang selalu meramaikan setiap hari harinya. Sampai lulus SMA seperti ini pun mereka masih terus bersama

“yak jangan seperti itu, aku bosan mendengar kata singkat , aah aku kan sudah minta maaf oppa mianhae” min ah terkikik geli, saat ia kembali meluapkan jurus andalannya, memanggil pria berambut hitam itu dengan sebutan oppa, yaa pria bermaga lee tersebut tak akan bisa menolak bila ia dipanggil oppa. Karena selama ini min ah sangat malas memanggilnya dengan sebutan oppa, menurutnya itu terlalu kekanak kanakkan, karena umur mereka hanya selisih beberapa bulan .
“aigoo kau ini, kau lapar makanlah pancake itu aku sudah memesankannya untukmu” sang yoon, memperhatikan tingkah lucu min ah, perlahan tangannya terulur untuk mengacak perlahan rambut min ah yang tengah menyantap pancake cokelat yang berada di hadapannya.
“apa kau ingat pertemuan pertama kita“ sang yoon kembali membuka percakapan, saat ia tengah menatap salju salju yang turun, dari jendela kaca yang berada di sampingnya, sang yoon dapat dengan jelas melihat salju it uterus menutupi ssetengah bagian jalanan kota seoul
“ne, pertemuan pertama kita saat salju turun.di taman bermain itu, kau bocah kecil yang merengek karena mainan mu rusak terjatuh” min ah mengehentikan gerakan sendoknya yang tengah memotong lapis demi lapis pancake. Gadis itu tersenyum seadanya  saat kembali mengingat memori yang membuat dirinya tertawa geli. Saat pertama kali waktu kecil dulu ia bertemu dengan sang yoon
“dan kebersamaan kita akan selalu seperti ini?” sang yoon menarik nafasnya, ia sangat mengetahui apa yang kini tengah min ah fikirkan, namuan pria itu terlalu malas membahas masalah yang akhirnya tak akan ada ujungnya
“ne kau benar, hubungan seperti apa sebenarnya kita saat ini. Kau memilki Jung hyorin ”  Sepertinya nafsu makan min ah sedikit mengurang, ia menarik dirinya memilih untuk menyandarkan dirinya ke arah sofa, menatap pria yang kini tengah sama menatapnya dengan penuh kasih, bola mata cokelat itu menatap min ah secara intens menimbulkan desiran desiran gemerlap kebahagian yang mencuat begitu saja setiap ia melihat pancaran hangat tatapan dari pria yang amat ia sayangi.
“Sudahlah aku tak ingin membahas itu lagi, yang  terpenting kau masih bersamaku saat ini” sang yoon tak mampu berkata apa apa, apakah ia bisa dibilang terlalu tamak, mempunyai kedua wanita yang ia sayangi?. tidak. Pria ini hanya tengah mencari kepastian , ia hanya tak dapat melepas keduanya, shin min ah gadis yang selalu menemani dan membuatnya bahagia, ia sangat membutuhakn min ah , ia tak mungkin melepas teman kecilnya begitu saja. Ia juga tak tau perasaan seperti apa yang ia milki terhadap min ah Sang yoon sangat membutuhkan min ah dan menyayangi gadis itu. Dan Jung hyorin, wanita  yang  selalu bersikap baik terhadapnya, wanita yang selalu membantunya, dan sekaligus wanita yang telah menyandang status sebagi kekasihnya .

“Dan juga aku tak pernah lupa ini untukmu, selamat salju pertama kita telah datang” sang yoon memberikan sepucuk mawar merah dengan lagi lagi sepucuk surat kertas berwarna putih terikat di tangkainya, inilah rutinitas yang selalu sang yoon berikan di saat salju pertama datang dengan setangkai mawar dan sepucuk surat kecil yang  mebuat hati min ah membuncah dengan sangat tak beraturan jantungnya berpacu sangat cpat darahnya mengalir sangat deras membuat percikan percikan kecil terus mengalir di sekujur  tubuhnya, rona merah di pipinya mulai terlihat jelas, min ah selalu menyukai cara sang yoon memperlakukan dirinya teramat manis.


In an afternoon like this
that the first snow comes I would be glad if only I could call you
Naegen wanbyeokhan saramingeol
Neon areumdawo nunbusyeo
You're so beautiful girl neo ppunya
Saranghae….

Min ah tersenyum membaca sepucuk surat itu, menatap sang yoon yang kini menatapnya penuh arti, menatap manik mata pria yang kini selalu menemaninya, yang mampu memberikan kejutan kejutan terindah dalam kehidupannya.
----

Shin min ah hanya terus menatap lekat wajah pria yang kini berada di sampingnya, sejak kepergiannya bersama lee sang yoon dari café tadi pagi, sudah lebih setengah jam sang yoon mengajaknya berkunjung dan mengelilingi lotte word untuk sekedar bermain dan berjalan jalan.
Tak dapat di pungkiri, min ah sangat senang ia masih mampu menatap serta melihat senyum dan merasakan genggaman hangat tangan sang yoon, walaupun terkadang gadis itu harus menelan pahit pahit kenyataan bahwa ia hanyalah wanita kedua bagi sang yoon. Apakah ia gadis bodoh? . entahlah terkadang perasaan nyaman serta ketulusan cinta mampu mengalhakan semuanya. ia hanya perlu mengunci rapat rapat kesakitan dan rasa cemburunya setiap kali melihat ataupun mendengar sang yoon tengah bersmesraan bersama hyorin . Kesakitan itu ia simpan dengan rapih menutupinya dengan segala tingkah manja dan gelak tawa itu sudah cukup. 

Sepenggal memori itu terus saja membuatnya kuat, membuatnya mampu betahan dalam hubungan ini bersama sang yoon. Pria itu terlalu apik memeperlakukan dirinya, ia terlalu terbiasa menikmati keindahan serta kenyamaan bersama sang yoon saat ini.Sepertinya lagi lagi untuk hari ini, min ah menghabiskan banyak waktu bersama  sang yoon, menikmati salju pertama di tengah tengah kota . Gadis itu menatap kedua foto yang kini berada di genggamannya, sebuah foto yang tadi ia abadikan bersama sang yoon setelah membeli  sepatu couple berwarna biru. Di dalam foto itu tergambar jelas bagaimana kebahagian menyelimuti hatinya, saat sang yoon merangkulnya ia dengan jelas tersenyum lebar. Shin min ah sudah terlalu terbiasa oleh keberadaan pria yang selalu menemaninya, meski ia sangat tau sang yoon  kini memiliki kekasih.

“sang yoon-ah boleh aku menanyakan sesuatu terhadapmu” min ah memutar wajahnya, menatap sang yoon yang kini tengah sibuk menyetir di tengah keheningan malam kota seoul, setelah seharian penuh ini mereka bermain dengan sangat puas
“ne, wae?” sang yoon menoleh, ia meraih tangan min ah, meskipun ia tengah sibuk menyetir pria itu sedari tadi tak bisa melepaskan genggaman tangan min ah, inilah rutinitas favourite yang selalu sang yoon lakukan jika ia bersama min ah . Sang yoon sangat menyukai tangan mungil milki min ah berada terus dalam genggamannya.
“eum.” Min ah menarik nafasnya, sebelum ia kembali melanjutkan kata katanya, akankah ia mampu menedengar semua jawaban sang yoon atas pertanyaannya nanti, apakah ia siap. Min ah berfikir sekali lagi pertanyaan yang selalu menggebu di benaknya
“ Apa hyorin tau kau selalu berhubungan dengan ku” min ah memejamkan matanya, bukankah ini pertanyaan terkonyol yang ia lontarkan, jelas saja ia sudah tau jawabannya, tak mungkin sang yon memberi tau kekasihnya bahwa dirinya kini berhubungan dengan min ah, namn entah mengapa kepastian itu sangat min ah perlukan, jauh dalam lubuk hatinya ia hanya ingin sang yoon bersamanya tanpa melibatkan wanita manapun, tapi ia juga tak mampu berbuat apa apa.
“aah, kita sering membahas ini bukan, dan kau tau jawabannya, yang terpenting tetap disampingku” sang yoon terlihat kikuk mendengar pertanyaan yang min ah berikan, ia sedikit berfikir namun ia tak ingin meributkan masalah ini, terlalu rumit rasa dalam dirinya yang selalu ia rasakan seperti ini, sang yoon tak ingin membahasanya .

Hening. Tak ada jawaban dari min ah gadis itu hanya terdiam, dan lebih memilih mengalihkan pandangannya ke arah jalanan kota seoul yang tengah diterangi gemerlap lampu jalanan yang berwarna warni serta buliran salju yang turun dengan deras menutupi sebagian atap toko toko serta rumah yang berada di pinggir jalan kota seoul. Min ah menarik tangannya perlahan yang kini tengah sang yoon genggam, membuat pria itu sedikit meilihat tingkah min ah, min ah saat ini tak ingin menatap mata milik pria yang kini tengah menatapnya, ditengah kendaraan yang tengah berhenti karena lampu lalu lintas yang tengah berkeip merah, min ah membuka sedikit kaca mobil sang yoon sedikit mengulurkan tangannya keluar untuk merasakan  buliran salju yang turun, hal ini dapat mengurangi sedikit rasa sakit yang melintas dalam fikirannya.

---------

Halaman 370
5 November 2011
“aku kira pria itu .Lee sang yoon melupakan malam ini, malam dimana salju pertama akan turun. namun tidak. Aku yakin sang yoon tidak seperti itu. Hanya sebuah goresan tinta hitam semu yang kini mampu ku torehkan di selembar kertas using ini, sambil menunggu datangnya kehangatan di tengah puing puing salju pertama yang baru saja turun.


yak berhenti melamun, apa kau ingin menghancurkan acara ulang tahun ku malam ini haiish jebbal ayolah ikut bersama ku” Park yeon joo, gadis yang memiliki rambut panjang bergelombang  dengan warna cokelat kayu yang kini tengah merengek ,menarik lengan shin min ah yang hanya terdiam menatap  secangkir soju yang tengah ia pegang , yeon joo gadis itu  terus saja membujuk min ah untuk ikut menemaninya menyambut banyaknya tamu undangan di pesta ulang tahunnya yang di rayakan di sebuah hotel ternama di kota seoul. Teman terbaik min ah yang selalu bersama dirinya, min ah sedikit jengah, entah sudah satu jam yang lalu ia terus menanti kedatangan sang yoon yang berjanji ingin menemaninya, namun nihil sampai saat ini pria itu tak kunjung datang

“berhenti merengek yeonie-ya, kau tau kau seperti bocah berumur lima tahun”  Min ah bangkit dari duduknya meletakan soju yang seari tadi tak ia cicipi, ia sangat tak menikmati pesta sahabat terbaiknya kali ini, fikirannya terus terfokus terhadap pria yang selalu ia sayangi. Pesta yang seharusnya menjadi moment indah untuknya, osebuah pesta megah bernuansa warna sapphire blue, yang merupakan warna kesukaan sahabatnya sendiri, sesungguhnya min ah tak ingin menghancurkan kebahagiaan sahabatnya ia ingin menemani yeon joo, namun tak dapat dipungkiri ia merasa gelisah karena sang yoon tak kunjung datang
“biarkan, kau kan berjanji ingin menemani ku menyabut semua tamu tapi kau malah memilih diam seperti batu hanya karena sang yoon mu itu, neo nappeun” yeon joo mengerucutkan bibirnya, ia merasa sangat bingung menyambut banyaknya tamu, sesungguhnya ia hanya ingin mengundang teman teman dekatnya, namun kedua orang tuanya malah mengundang rekan bisnis mereka, karena keluarga yeon joo merupakan salah satu keluraga terpandang di seoul, pemilik park corp yang berkecimpung dalam bidang perhotelan serta pariwisata. Sudah banyak terkenal hotel berbintang milik keluarga park yang berdiri saat ini di berbagai Negara, karena tak dapat di pungkiri banyak sekali tamu tamu penting yang saat ini berdatanganan, yeon joo sangat tak suka moment seperti ini, ia hanya ingin menghabiskan waktunya bersama teman teman bukannya menyambut tamu yang sama sekali takia kenal

“aigoo, mengapa tampangmu seperti ini kau ingin gaun birumu ini menjadi kusut akibat muka mu kau tekuk eoh’ , berhenti seperti itu bodoh” Min ah sedikit merasa bersalah, ia sudah tau yeon joo sangat ingin ditemani bahkan ia yang telah berjanji akan menemani yeon joo
“yak andwe” yeon joo membelalakan matanya, ia sangat mencintai gaun biru yang kini ia gunakan, gaun malam yang menjuntai panjang yang sangat menawan dengan satu tali  melilit leher putihnya serta beberapa krystal putih menghiasi bagian pinggang yang membentuk sebuah ormanen kecil menambah manis perpaduan gaun itu. ditambah rambut cokelat kayu milik yeon joo yang menjuntai menutupi sedikit bahu putih milik yeon joo
“yak  berhenti berteriak, kau ingin cho kyuhyun mu itu meilhat muka kusutmu” min ah tertawa perlahan melihat tingkah yeon joo yang  sangat kekanankan, bahkan mereka sudah duduk dibangku kuliah namun tingkah sahabatnya ini tak berubah tetap kekanak kanakan selalu merengek ketika permintaannya tak dapat ia capai

“geure kau benar aku harus terlihat sempurna malam ini, kajja kita akan menemui namjaku “ yeon joo menarik min ah sehingga gadis itu seikit terhuyung langkahnya, yeon joo sangat bersemangat ketika melihat cho kyuhyun kekasihnya tengah berdiri di sudut hotel tersebut. min ah hanya mengikuti langkah kakinya, sembari membenarkan sedikit letak gaun pink nya yang sedikit menghalangi langkah jalannya karena ia menggunakan high heels yang berukuran sekitar sepuluh ceentimeter, sesungguhnya ia sedikt merasa tak nyaman mengenakan sepatu seperti ini, demi yeon joo sahabatnya min ah tak ingin mengecewakan yeon joo yang sudah susah payah memilihkan sepatu untuk yeon joo
“aigoo chagi your beautiful right now” Kedua langkah kaki min ah terhenti saat melihat yeon joo dengan langkah cepatnya, mengahpiri kyuhyun yang kini tengah berdiri dengan tegapnya, memakai tuxedo hitam , dengan cepat yeonjoo memeluk erat kekasihnya, dari jarak yang sedikit jauh seperti  ini  min ah tersenyum melihat betapa mesranya cho kyuhyun bersama yeon joo saat ini, kyuhyun dengan sabarnya memberikan jas hitamnya untuk menutupi tubuh yeon joo , karena ia tau ini musim gugur, namun sahabatnya itu memilih gaun malam tnpa lengan, meilhat itu hatinya sedikit mencelos, mampukah ia seperti ini bergelayut manja terhadap sang yoon tanpa sedikit pun perasaan takut ada seseorang wanita yang terluka, ia ingin sebebas yeon joo memeluk pria yang ia cintai tanpa takut apapun

“aaah mianhae “ min ah sedikit meoleh saat bahunya sedikit tersenggol oleh salah satu tamu yang mungkin tamu yeon joo, namja bertumbuh tinggi dengan eyes smile yang sangat apik menatapnya meminta maaf terhadapnya, dan sat itu juga salju pertama tahun ini turun, min ah mendongak mentap langit malam, ia merasakan hawa dingin mulai menggelayuti tubuhnya. min ah tersenyum mentapa pria yang baru saja menabraknya.Manis, satu kata terindah yang mampu min ah lontarkan menatap pria yang baru saja menabraknya yang tengah sama menatap langit melihat buliran buliran salju yang mulai turun salju pertama di tahun ini.  min ah hanya tersenyum sesaat sebelum sebuah suara memanggilnya.
“shin min ah” sebuah suara mengalun jelas di telinga min ah, membuatnya sedikit mengalihkan pandangannya, kini pandangannya tertuju terhadap pria berambut cepak hitam yang tengah melangkah pasti menuju dirinya, entah mengapa min ah lebih memilih menoleh terhadap pria yang baru saja menabraknya, ia sama sama terdiam dan sebuah senyuman terukir jekas dari sudut bibir tipis mungil pria itu, sebelum pria yang tak ia ketahui namanya pergi menuju meja yang berada di tengahruangan.
“kau, yak mengapa baru datang” min ah mengalihkan pandangannya, saat lelaki yang tak ia ketahui namanya telah menghilang di balik dinding pembatas ruangan ini. matanya kembali terfokusu terhadap pria tinggi yang berada di hadapannya, yang kini dengan seenaknya menggandeng tangannya tanpa meminta persetujuan darinya
“chup” tanpa perkataan, sang yoon kini mengucp singkat bibir min ah membuat gadis itu terdiam , semburat rona merah muncul di pipi min ah. detak jantungnya berpacu sangat cepat, min ah menunduk inikan halayak ramai mengapa sang yoon malah melakukan ini. Ahh hatinya menjadi tak karuan
“yak kau, nappeun” min ah melayangkan satu tangannya, ini mmemukul lengan sang yoon, namun sayang tangannya buru buru di sanggah sang yoon yang tengah tertawa penuh kemenangan, pria itu sepertinya tau bagaimana rasanya mengobtai rasa sakit gelisah yang kini tengah menggebu di hati min ah
“untukmu” sang yoon, menarik min ah duduk di sebuah kursi yang tersedia dalam pesta tersebut, memberikan setangkai mawar merah dengan di ikat oleh secarik kerta putih
“cih inikah cara perminta maafmu saat kau telat datang” min ah tersenyum miris, sungguh ia menyukai cara sang yoon memperlakukan dirinya kali ini, sangat apik dan romantic. Namun ia harus bisa menyembunyikan rasa senangnya, ia tak ingin sang yoon melihat begitu besar rasa senangnya melihat kini pria yang amat cintai memperlakukannya dengan teramat manis.

Listen babe, I’ll dedicate this for you
Your smile that looks at me oh It’s really, really bright
My beautiful love
I only think of you for the whole day
Please stay like this forever
I love you

shi min ah perlahan membuka perlahan isi surat itu ia selalu tersenyum meluhat saat seperti ini, di saat salju pertama ini datang inilah saat terindah dalam hidupnya dapat selalu melakukan rutintas terindah bersama sang yoon, menatap pria yang kini tengah meneguk wine merah yang berada di atas meja kaca di hadapannya.
“selamat salju pertama mu telah turun” sang yoon mendongakan wajahnya, membisikan sedikit kata kata terindah yang selalu min ah dengar, membuat min ah tersnyum senang perlahan rasa gelisah dan takut yang sejak tadi mengelililngi hatinya perlahan menghilang  tergantikan rasa kebahagiaan yang amat membucak terlebih saat ini..
-------



Halaman 730

17 November 2012

“Aku berfikir ini akan kembali menjadi salju terhangat ku yang selalu ku temui. namun sebaliknya salju itu kini telah membeku telah membuat segala persendian dan pusat tubuhku melemah. Lagi lagi lee sang yoon entah mengapa nama itu selalu sulit ku enyahkan, dengan jelas jelas ia tak sedikitpun memiliki kejelasan. Kali ini aku tak mampu lagi berdiri sungguh ini menyakitkan. Sang yoon ah izinkan aku untuk menjauh dari hidupmu, menjauh dari hangatnya salju yang selalu kita nikmati bersama. Aku lelah menjadi seorang yang hanya mampu berdiri di belakang bayanganmu, dan aku lelah menjadi wanita keduamu”

Matahari nampaknya dengan sangat malu malu menampakkan sinar  triknya, sang surya yang terus bersembunyi di balik awan yang mengepul dengan tebalnya di atas langit seoul siang ini, tak menyurutnya niat shin min ah untuk segera berlari terburu buru  . Ia sedikit berjalan tergesa gesa sembari memakai hoddie hijau yang membukus tubuh mungilnya, gadis itu  menggosokkan telapak tangannnya untuk sedikit mengusir rasa dingin yang membelegu tubuhnya, sudah dapat di perkirakan hari ini sepertinya adalah hari pertama turunnya salju, gadis itu tersenyum senang inilah moment yang sangat ia tunggu tunggu, moment yang biasanya menjadi moment terindah dalam hidupnya.


A really happy you, who is next to me
I waited for  today,
Because you’re here, I’m happy
We’re going to be together
I only think of you for the whole day
You, who is like the sunshine that shines through the window
You wake me up and make me smile, you’re special, a bit different
You, who is more important than anything else in the world
I love you lee sang yoon..
I wanna beside you.. always..

Min ah mengatur nafasnya, ia terlihat amat senang gadis itu memutuskan ingin membeli sebuah baju di sebuah bitik yang kini sudah berada di hadapannya untuk pertemuannya nanti malam dengan sang yoon, pria itu memintanya untuk bertemu entah kejutan apalagi yang kini ia nantikan yang nanti malam akan sang yoon berikan untuknya, seperti biasa gadis itu senang sekali menyambut turunnya salju pertama.

Langkah gadis itu kembali terhenti saat min ah merasakan buliran salju terhatuh di permukaan wajahnya segera mungkin min ah mendongakan kepalanya salju pertama telah turun tepat pukul lima sore buliran salju itu jatuh dengan jelasnya dari langit membuat semburat kegembiraan di sudut hati min ah gadis itu teramat mencintai salju ia menyukai hawa dingin yang diciptakan dari salju, min ah merentangankan salah satu tangannya menggapai buliran buliran salju yang mulai turun, tak ia pedulikan beberapa mata yang menatapnya, min ah berdiri tept di sebuah pusat perbelanjaan , di sebuah pintu masuk sebuah mall. 

Min ah tersenyum puas saat tangannya telah mampu menggapai salju salju itu, perlahan min ah menundukkan kepalanya, menyusuri pintu masuk pusat perbelanjaan, tiba tiba saja matanya terperangah melihat sepsasang manusia tengah berciuman jelas di sebuah sudut café, dengan jelasnya dari luar sini, dari balik jendela kaca sebuah café yang berada di dalam sebuah mall . Dengan jelasnya  min ah sangat mengenali sosok yang tengah bercumbu mesra di sudut café , yang tengah tertawa lebar. lee sang yoon sosok pria itu, sosok yang kini tengah mengusap mesra rambut seorang yeoja, yang sangat min ah ketahui tak lain ialah jung hyorin. Min ah merasakan semua pusat tubuhnya terhenti, sesakit inikah rasanya. 

Bertahun tahun min ah lebih memilih terdiam dan mengalah lebih memilih terus berada di samping sang yoon, namun tak dapat di pungkiri sosok perempaun cantik yang kini tengah duduk di hadapan sang yoon adalah kekasih sang yoon. Harusnya min ah bisa mengatasi rasa sakitnya, ia terlalu muak dengan semua ini. ia merasakan saljunya yang kini tengah mulai derasnya turun tak lagi hangat melainkan dingin yang mampu membuat seluruh tubuhnya membeku relung hatinya menjerit kesakitan. Pahit. kata itu terlalu klasik ia ucapkan. 

Buliran bening itu dengan lancarnya mengalir jelas di pelupuk matanya, saat sepsangan mata cokelat milik sang yoon mulai menatapnya dengan penuh keterkejutan dari balik jendela kaca tersebut, mata it mata milik namjanya tak lagi merasakan kehangatan melainkan rasa sakit itu mendominasi hati serta fikirannya min ah. Gdis it uterus terisak, sesaat sang yoon terus menatapnya terdiam, min ah memilih pergi berlari ia terisak, langkahnya terus terseok. salju ini inilah salju terburuk dalam hidupnya, ia meraskan dingin yang menusuk.

Nareul wihae seorago haneun neo jeongmal miwo boinda
Tteoreojinda nunmuri ttuk ttuk ttuk
Sarajinda useumi jeom jeom jeom
Sarangira bureudeon gaseumeda phumeotdeonniga nareul tteonaseo
Haneuri nae mameul aneunji
Deo apheuji mallago neoreul geuman borago
Sarangi mwo gillae ibyeori mwo gillae
Wae nareul apheugeman hae
Deo apheuji mallago neoreul geuman borago

Aku membenci dirimu yang berkata akan melakukan semuanya untukku
Air mata yang jatuh ttuk ttuk ttuk
Karena kau yang mendekap hatiku, yang kusebut sebagai cinta meninggalkanku
Senyum yang menghilang, semakin banyak dan banyak
Apakah langit tahu perasaanku?
Aku tak ingin lebih tersakiti dan berhenti melihatmu
Apakah cinta itu? Apakah perpisahan itu?
Mengapa itu membuatku merasa sakit?
Aku tak ingin lebih tersakiti dan berhenti melihatmu


Min ah berlari ke arah  taman bermain di sebuah pinggir kota, gadis itu memilih duduk di sebuah ayunan kayu dan menangis terisak, min ah tak lagi memperdulikkan hawa dingin yang menyelimut dirinya, bibirnya yang mulai membiru  karena dingin yang begitu menusuk tak membuat min ah bergeming, fikirannya terlalu kusut, seharusnya ia mampu baik baik saja, namun rasa sakitnya sangat mendominasi ia merasa seperti gadis terbodoh kali ini, seharusnya min ah mampu mengunci rapat rapat rasa sakitnya. Dingin salju kali ini bahkan terkalahkan oleh rasa dingin yang mendominasi sudut hatinya, min ah kehabisan kata katanya gadis itu kini lemah seluruh pusat tubuhnya terasa melayang terbaang terbawa alunan salju yang turun dengan derasnya.

Min ah merogoh tas putih yang berada di pangkuannya, meraih sebuah buku diary miliknya, perlahan min ah membaca semua kenangan kenangan yang tertuliskan dalam buku tersebut , buku yang bertuliskan tenang seorang namja tak lain ialah lee sangyoo. Setiap lembar setiap goresan hitam tinta pena miliknya terdapat nama lee sang yoon selalu terukir. Gadis itu bertekad ia tak ingin lagi hatinya hancur tak ingin lagi perasaannya dimainkan, ia lebih memilih mengubur dalam dalam segala rasa sakit serta kenanga indah maupun pahut yang sangyoon berikan. Min ah bangkit membuang buku diary miliknya ke arah  tempat sampah yang berada di balik pohon mapple . Min ah menyeka sisa air matanya, dengan menggigit bibirnya min ah perlahan meletakan buku diary miliknya, membiarkan buku itu terjatuh jelas di dalam tempat sampah, memilih pergi menjauh dari kesedihannya.

“mi.. mi mianhae” min ah mendongakan kepalanya saat kakinya tersandung, sebuah kaki . Kak seorang pria yang tengah tertidur di bawah pohon mapple, dengan wajah tertutupi sebuah buku sejarah yunani kuno.
“ne eoh kau” pria itu terbangun karena merasakan tidur nya sedikit terusik, menatap gadis di hadapannya yang tengah menyeka airmata, yangbarus saja meminta maaf terhadapnya
“ne?” min ah menatap bingung pria yang kini menatapnya, dengan mata memerah ia dapat memastikan pria ini habis tertidur pulas. Gadis itu berfikir sejenak ternyata masih ada seseorang yang mampu tertidru di luar sini di saat udara dingin seperti ini. namun min ah lebih memilih melanjutkan langkah kakinya ketika pria itu menatapnya tanpa berkata apapun. Sesekali min ah menoleh pria itu tersenyum kikuk, yaah ia ingat inilah pria yang menabraknya saat acara ulang tahun yeon joo tahun lalu, pria pemilik eyes smile yang amat manis. namun min ah tetap melangkahkan kakinya , entah mengapa kini ia merasakan muak terhadap salju salju yang sudah membuat rasa dingin terus mendominasi dirinya, ia tak pernah seperti ini, biasanya min ah merasakan kehangatn diam diam menyusup dalam jiwanya saat salju pertama itu turun , namun nihil ia tak merasakan kehangatan itu melainkan rasa dingin yang menyelimuti benak fikirannya kali ini.
“wanita itu” Pria berambut hitam itu terus menatap sosok min ah yang sehabis menoleh terhadap dirinya, lagi lagi dengan tidak sengaja ia kembali bertemu dengan gadis pemilik mata sendu, entah mengapa pria itu masih mengingat jelas wajah  min ah . Tak fikir panjang pria yang kini mengenakan mantel hitam tetap melanjutkan acaranya membaca sebuah buku sejarah perlajalanan yunani kuno, yaah pria itu teramat menyukai segala tentang sejarah yunani, terlalu klasik bukan kesukaannya..

------


“shin min ah” min ah menatap malas pintu rumahnya,raut wajhnya masih dengan jelas memancarkan rasa kecewa mata sembabnya masih mendominasi , terlebih kini audi hitam yang saat ia kenali terparkir jelas di depan rumahnya, ia sangat hafal ini adalah audi milik lee sang yoon, ia sangat malas ia baru saja menenangkan fikirannya, min ah lebih memilih memutar  arah jalannya, ia ingin pergi sementara, namun langkahnya terhenti saat sepasang tangan menahan pundaknya
“kajjima” sang yoon menepuk pelan pundak min ah, dengan sangat jelas ia melihat mata gadis yang kini di depannya terlihat sembab, ia tau ini kesalahannya
“kau melarang ku pergi, apa hak mu” min ah mmenarik nafasnya, ia tak puny apilihan lain ia harus menghadapi ini semua harus menghadapi pria yang telah mengahncurkan sebagian perasaan hidupnya
“mian, jeongmal mianhae” sang yoon meraih  tangan min ah, sungguh ia takingin melihat min ah seperti ini.
“segampang itu kau mengucap , aku lelah tolong pergi, menjauh dari ku sang yoon-ssi” min ah menarik tangannya yang kini tengah di genggam sang yoon, ia tak sanggup lagi menahan kesakitan yang terus merontak dalam relung hatinya
“mianhae aku bisa menjelaskan”
“menjelaskan?. tak perlu aku lelah jebbal ku mohon menjauhlah”
“andwe” sang yoon kehilangan akal fikirnya, ia memeluk min ah, ia terlalu terbiasa dengan soskk gadis ini, sang yoon tak ingin dengan gampangnya melepas min ah, ia tau ia tamak ia egois, namun biarlah egois ini membelenggu jiwanya, ia terlalu sulit tanpa min ah..
plaaak!
Sebuah tamparan keras mender  jelas di pipi sang yoon, min ah mmelepaskan pelukkan sang yoon, ia jengah dengan semua ini

“kau tau , ku fikir aku mampu bersabar aku mampu bertahan di saat kau dengan mudahnya bersama gadismu, kau tau kesakitan ku menjadi, aku tak lagi merasakan kehangatan mu, aku lelah sang yoon-ssi aku lelah, menjauh dari ku jangan pernah lagi menemuiku, kau pria terjatah yang pernah ku temui, aku bodoh telah menegenalmu, telah percaya semua kata katamu” min ah kehilangan kendalinya, ia menarik keras tangan sang yoon yang terus menggenggamnya, ia ingin terlepas dari rasa sakit ini. ia tak ingin lagi menjadi wanita bodoh yang terus menatapdari belakang soosk lee sang yoon dalam hidupnya. ia harus segera melupakan semuanya ia ingin hidup yang sesungguhnya.
“min ah aaaahk!!!” sang yoon mengacak rambutnya gusar, ia bodoh yaa ia bodoh ia telah melepas min ah begitu saja, inikah jalan hidupnya, seharusnya dari awal ia mampu mengubah niatnya, ia mampu memutuskan hubungannya dengan jung hyorin, namun ia tak dapat berbuat apa apa semuanya telah berakhir min ah telah membencinya, min ah telah pergi dari hidupnya, ia telah menghancurkan segalanya. Kini sang yoon hanya mampu menatap min ah yang berjalan tergesa gesa, memasuki rumahnya, ia mampu merasakan kesakitan yangmin ah rasakan saat ini. ia pria bodoh . sang yoon menatap gusar dirisnya kali ini.

Author Pov**

Shin min ah menjatuhkan dirinya, kakinya serasa tak mampu lagi menopang seluruh tubuhnya, di kuncinya rapat rapat pintu kayu kamarnya, ia kembali terisak, gadis itu merasakan amat hancur, nafasnya tersendat saat buliran bening itu kembali mengalir deras di pelupuk kelopak matanya menganak sungai dan siap meledak. Air mata itu tak dapat lagi terbendung, min ah hanya mampu menangkupkan kedua tangannya menutupi segala sisi wajahnya yang tengah menangis hebat, gadis itu terlalu susah menutupi segala kerisauan hatinya. Beribu kenangan indah bersama sang yoon terus berputar dengan cepatnya di limit otaknya layaknya puteran alur film romantic yang di tayangkan di sebuah telivisi. ia tak mampu menampik setiap kenangan it rasa sakit dan perih terus menggelayuti setiap benaknya, rasa penyesal;an rasa kelegaan terlepas dari beban, serta rasa sakit yang mengupul jadi satu membentuk sebuah pusaran air mata yang menjadi bentuk sebuah kesakitan yang amat mendalam

Bukankah hati manusia itu berubah ubah, kadang ia baik kadang buruk. mampukah shin min ah mengubah segala keburukan serta kesakitan hatinya. Bukankah sebuah cinta hanya diselimuti kebahagian dan hanya hanya terdapat dua sosok saling mencintai, tapi bagaimana bila kedua sosok itu di rusak oleh seseorang, masihkan itu disebut cinta, masihkah kesakitan dan rasa sayang itu di sebut cinta, ketika sosok seseorang ketiga datang, ketika sosok yang selalu menatap di belakang datang. Cinta tak mungkin sesakit ini, bukankah ini hanyalah ilusi cinta semata yang selalu membayang semu?

Tapi jika ini hanya ilusi mengapa harus sesakit ini, mengapa harus seperih ini. lee sang yoon sosok pria yang selalu menemani shin min ah menarik gadis itu hingga min ah jatuh terlalu dalam terperosok dalam jurang semu yang menyakitkan. Bisakah min ah menyebut ini cinta, atau menyebut ini semua kebutan dari cinta…
Yang terpenting, ini adalah sebuiah hasrat mendalam yang tumbuh diam diam terselip dalam relung jiwa ketika sosok itu, sosok seorag lee sang yoon selalu hadir selalu mampu memebrikan segalanya selalu menarikku min ah agar tak pergi dari hidupnya, namun pria itu, lagi lagi lee sang yoon tak membrikan kejelasan yang tepat, hanya memberikan sebuah bayangan semu yang terus menyakitkan dan menusuk dalam relung hati min ah.

Kini gadis itu, shin min ah berhenti mengikuti bayangan semu yang dicipatakn lee sang yoon, gadis itu muak menatap semuanya, menatap kebodohannya, ia harus mampu bangkit, bahkan ia sangat ini langkahnya mungkin akan terseok, langkahnya kan tertaih saat taka da lagi kehangatan yang ia dapatkan ketika salju pertama itu turun. 

Namun inilah takdir Tuhan yang selalu harus ia jalani, ia harus menatapnya dengan penuh percaya bahawa Rencana Tuhan akan lebih baim untuknya, ia harus melepas dan membiarkan baying baying semu Lee sang yoon menjauh dari kehidupannya..

Ije jogeumsshing na seulpeojigo niga tteonan geol shilkamhajiman
niga dora omyeon jal haejugetdan saenggakppun
Wae ireoke miryeonhageman gulkka
Naege jueojyeotdeon shigandeureun
Deo apheuji mallago neoreul geuman borago


Sekarang sedikit demi sedikit aku tersadar akan kesedihan dan kepergianmu
Jika kau kembali, aku hanya berpikir untuk melakukan yang terbaik
Mengapa aku bersikap bodoh?
Aku tak ingin lebih tersakiti dan berhenti melihatmu


Last story in first snow
10 November 2013

Author Pov**
Lagi lagi November, bulan dimana buliran buliran putih salju kini turun, entah kapan salju pertama akan turun di tahun ini, sudah dua tahun semnejak kejadian terdahulu shin min ah lebih memilih menghabiskan waktu di kamar saat salju pertama itu turun, saat  buliran putih yang dulu amat ia gemari turun untuk pertama kali nya, min ah lebih memilih menyembunyikan dirinya dalam balutan selimut tebal di ranjangnya, semenjak kejadian itu yang tak ingin lagi berurusan ataupun berhubungan dengan hal semacam yang akan mengingatkannya dengan lees ang yoon, pria yang berulang kali telah ia lupakan. Pria yang kini entah dimana. Dan kini saluj keduanya tanpa pria itu setelah tahun kemarin merasakan kepahitan yang amat mendalam. Dan hari matahari telah memancarkan sinarnya namun min ah masih memilih bersantai menonton televise dan menyembunyikan dirinya berbalut piyama berwarna krem di balik selimut tebalnya.

Dan tiba tiba min ah mematikan tvnya saat berita di tv menyiarkan kemungkinan terjadiya salju pertama, ia sangat malas melihat itu semua, min ah lebih memilih melangkahkan kakinya menuju kamar mandi yangberada di sudut kamarnya, karena ia ingat hari ini ia harus menemani yeon joo untuk mencarikanbuku  bahan penelitian materi tugas kuliah mereka yang diberikan olh kim seongsanim minggu lalu. Jika saja bukan karena kim seongsanim min ah malas sekali keluar rumah di saat musim dingin seperti ini, ia masih cukup muak dengan semua hal ini..

Min ah memastikan dirinya telah rapih , ia melihat pantulan dirinya pada cermin besar yang berada di samping ranjang tidurnya, min ah memilih menggunakan jeans berwarna navy serta blouse kuning yang di padukan dengan mantel cream miliknya, tak lupa sepatu boots berbulu dan syal berwarna senada melilit leher jenjangnya, Min ah sedikit menguncir rambut hitamnya ia terlalu malas membiarkan rambutnya teruai hari ini. Sekali lagi min ah mematiskan dandannnya telah sempurna dengan polsesan make up tipis tak lupa gadis itu memoles bibir tipisnya dengan lipsgloos pink yang semakin memepercantik dirinya.

“kau tau, mengapa kim seongsanim memebrikan begitu banyak tugaas, aah aku lelah min ah-ya” yeon joo mempout ka bibirnya, gadis itu terlihat sibuk memilih milih berbagai macam buku untuk keperluannya.
“ne kau benar, aku lelah dengan semua tugasnya” min ah bersandar pada yeon joo, ia terlihat malas mengerjakan ini semua
“omo. oppa, oppa Cho kyuhyuun” yeon joo terlonjak kaget dan menaruh semua buku bawaannya ke rak kayu yang berada di toko buku tersebut saat ia melihat kkekasihnya jug aberada di situ, min ah hanya kembali mengambil semua buku yang tadi yeon joo letakkan, ia mmemperhatikkan tinggah manja yeon joo yang kini menggelayut mesra di lengan cho kyuhyun. Min ah sangat tau park yeon joo dan Cho kyuhyun adalah pasangan yang sangat serasi, mereka cocok, ia percaya seorang cho kkyuhyun mampu menjaga sahabatnya , mampu membimbing dan terus berada di samping yeon joo. Shin min ah melangkahkan kakinya me arah tempat yeon joo berdiri.
“mengapakau tak bilang chagi, aku kan bisa mengantarmu huum” kyuhyun mengusap manis kepala yeon joo, ia meninggalkan buku bacaannya kini lebih memeilih memeluk erat kekasihnya,inilah yang ia lakukan rutinitas yang sangat ia gemari, memeluk dan berada dekat gadi yang ia sayangi
“aku bersama min ah, kau tak usah khawatir oppa, kau sediri?” yeon joo menatap kyuhyun, dan kembali menggenggam tangan kyuhyun yang kini Nampak pas berada di pergelangan tangannya
“aniya, aku bersamanya”  Kyuhyun  menunjuk salah seorang lelaki yang kini sedang berdiri di sudut rak buku , lagi lagi pria itu membaca sebuah sejarah peradaban tentang yunani kuno, teman cho kyuhyun yang sedikit yeon joo kenal. Seorang pria yang menurut yeon joo manis, bahkan Cho kyuhyun pun sempat marah dan cemburu data yeon joo dulu menyebut lelaki itu manis.
“yak, min ah-ya kajja sebentar saja ku kenalkan dengan teman ku kajja “ yeon joo menarik min ah yang tengah diam membaca sebuah novel, yang ia ambil secara acak. ia meletakkan kembali novel itu dan mengikuti langkah kaki  yeon joo
“eoh neo” Min ah melebarkan matanya, saat melihat sosok lelaslik yang pernah ia temui ini, min ah menatap pria ini, sementara kyuhyun dan yeon joo menatapnya bingung
“aah kau, byun baekhyun imnida” Pria itu, Pria yang tiga tahun lalu min ah temui saat pesta ulang tahun yeon joo, dan juga pria yang ia temui dua tahun lalu saaat salju pertamaa turun di tahun ini. Lagi lagi pria ini pria yang tertidur pulas di bawah pohon mapple dengan di tutupi buku tebal mengenai  sejarah yunani kuno. Min ah pun tersenyum ketika melihat pria bernama byun baekhyun itu kini kembali menggenggam buku tentang sejarah yunani kuno, sepertinya memang lelaki ni mencintai hal hal seperti itu.
“aah ne, shin min ah imnida” Min ah menyambut jabtan tangan baekhyun, pria yang mimiliki mata indah ini mentapnya dengan penuh makna, min ah tersenyum seadanya
“kalian saling mengenal” yeon joo mentap min ah dan baekhyun dengan bingung
“ne, aku menemuinya saat acara pesta ulang tahun mu dulu “
“mwo, jinjja. jadi ia yang kau sebut apprhodite untukmu baekhyun-ah. jadi ia dewi apprhodite mu” kyuhyun menatap baekhyun yang tengah merasa kehilangan kata katanya
“yak hyung hentikan bicaramu” baekhyjn kehilangan kata katanya, ia tak menyangka kyuhyun akan membeberkan rahasianya. Rahasia tentang seorang wanita yang sudah lama ia temui, namun baekhyun tak mengethaui siapa pun gadisnya.
Gadisnya yang ia sebut sebagai jelmaan dewi apphrodite untuknya, dewi kecantikan untuknya. Mungkin Tuhan memiliki rencana lain kini saat ini, byun baekhyun kembali di pertemukkan lagi dengan gadis nya.
Dan tak disangka salju tahun ini kembali turun dengan derasnya, di saat kedua insan byun baekhyun dan Shin min ah saling berjabat tangan pada detik itu juga saljupertama pun turun. Apakah ini rencana  Tuhan?. entahlah. Semuanya mungkin akan terasa indah bila sang pecipta yang mengaturnya…
“omo omo, min ah-ya kau harus ingat byun baekhyun bukanlah pria jahat kau harus ingat itu arraseo meski ia seidkit pendiam” yeon joo terkiki geli saat melihat min ah dan baekhyun terus terdiam.
Entah apa yang min ah rasakan kali ini, tanganny atib atib amenghangat sangat tangan milik pria yang baru saja ia ketahui namanya menjabat jelas menyentuh permukaan kulitnya, min ah tersenyum seadanya, gadi situ mencob amenyembunyikan detak jantungnya yang kini berdentum sangat hebat, ia berharap siapaun tak mendengar detak jantungnya kali ini yang sangat cepat.


******

Dan setiap lebar demi lembar diary itu min ah membacanya dengan seksama, entah apa yang membuat hatinya kembali terhenyut, gadis itu hanya mampu menatap penuh arti ke arah pria bertubuh tinggi tak lain byun baekhyun yang selama satu tahun ini selalu menemaninya, membantuny a bangkit dari keterpurukan, meskipun ia tak sehangat saljuyang dimiliki dekapan tangan sang yoon, namun semua ini cukup, semua rasa kasih serta warna tersendiri selalu tercipta saat min ah menatap dan bersama byun baekhyun

“kau sudah selesai membaca diary mu itu, berhentilah menangis” Bekhyun berdiri tepat di depan wajah min ah yang tertunduk seharusnya inilah hari bahagia untuk gadisnya, ia tak bermaksud membuat min ah menangis
“ne, gomawo jeongmal gomawo  dan kapan kau menemukan diary ku bahakan aku tekah membuangnya” min ah tetap terisak, ia kembali memeluk baekhyun, ia merasakan kelegaan tersendiri ketika mengingat semua kejadian dahulu yang kini sudah menjadi masa lalunya, dan sepintas kejadian bagaimana baekhyun selalu memperlakukannya dengan apik, selalu dengan sabar menunggu jawaban cinta yang sellau baekhyun lontarkan terhadapmin ah.
“Setelah pertemuan kedua kita, aku begitu merasa ada yang aneh, kau tau sore itu aku mengacak isi sampah sehabis aku tertidur demi mendapatkan diarymu” Baekhyun tertawa ia kembali mengingat kejadian dulu.
Dengan sabar byun baekhyun pria yang memiliki tatapan meneduhkan itu selalu memberika warna dan kehangatn yangberbeda. Mungkinkah saljunya yang sekarang telah lebih hangat telah memilik banyak warn ayang indah seperti layaknya ribuan kupu kupu yang berterbangan di saat musim semi tiba. begitu indahnanelok rupawan.
“dan sekarang, bolehkan aku kembali menghangatkan saljumu, memberi warna tersendiri dalam harimu, Shin min ah aku tak mampu memberikan seuntai surat putih yang terikat di tangkai mawar, tapi aku mapu memberikan warna terindah yang selalu ingin ku gapai bersama mu, izinkan kau menjadikan mu dewi apphrodite untukmu” baekhyun membisikan kata teramat manis itu tepat di telingan min ah, dan perlahan melepaskan pelukkan min ah, pria itu membuka sebuah kotak berisikan cincin putih yang di hiais kilauan berlian berwarna biru yang amat indah, membuat min ah lagi lagi meneteskan air matanya, ia terllau berlebih meneremia kebahagiaan ini. ia kini sungguh mengerti apa itu artinya warna dalam hidup. Warna yang penuh keceriaan dan penuh dengan tangisan. Semuanya lengkap telah ia milik
“ne pakainkan untukku” min ah menjulurkan jari jari lentiknya, membuat byun baekhyun tersenyum, senang, ia tau dan ia snagat paham ia bukanlah pria terindah ataupun tersempurna, Namun satu hal ia hanya ingin menjadikan min ah sebagai dewi apprhodite yang terakhir untuk nya
“gomawo” baekhyun mengecup singkat bibir min ah, dan kembali memeluk gadisnya di tengah turunnya salju.

Dan kini salju pertama itu menghangat menjadi saksi bagaimana kesedihan serta kebahagian menyelimuti hari hari dalam hidupku, kini semua bisa aku terima bisa di rasakan semua warna warna keindahan maupun keburukan yang dialami hidup. Aku Shin min ah yang kini selalu berusaha mempelajari arti kehidupan yang Tuhan berikan dan aku kini tetap menyukai salju, tetap menyukai pria bernnama Byun baekhyun.
---Shin Min Ah---



END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar