Senin, 29 September 2014

This A Woman



Angin musim gugur saat ini tak pelak menutup segala kehangatan di belahan sudut bumi, dinginnya angin menyeruak memasuki seluruh permukaan kulit, namun apakah dinginnya angin itu mampu membuat seorang wanita berhenti berusaha untuk mewujudkan segala keinginannya, tentu jawabannya adalah tidak…
Seorang wanita dapat disebut wanita sempurna jika wanita itu mampu memiliki kesabaran, ke optimisan dan kepasrahan terhadap Allah, maka ia dalam jalan yang benar, dalam jalan menuju syurga Allah, mampukah setiap wanita menjadi seperti itu ?. Jika setiap wanita memiliki masalah pribadi masing masing mampukah mereka menentukan jalan menuju syurga itu tanpa halangan ? 

Tidak, tidak mungkin setiap manusia tidak memiliki halangan ataupun masalah dalam hidupnya, begitu juga dengan seorang wanita ia hanyalah makhluk  yang Allah ciptakan di bumi ini, Hanya seorang wanita sholehah yang mampu menjadi penghuni syurga yang mampu mendapatkan jembatan syurga yang baik untuknya.

Hujan yang terus menemani sore ini pun semakin memperindah angin musim gugur yang terus saja 
berhembus, bahkan  setebal apapun jaket berbulu yang di gunakan tak akan bisa membuat hangat hati seorang wanita yang tengah menjalani langkah menuju surga Allah, saat ini kesabaran salah satu seorang wanita muda tengah di uji, ia tengah mencari jati dirinya yang susungguhnya, tengah menatap dunia yang sebenarnya untuk hidupnya, tengah mencari sosok seorang yang mampu menjadi pelengkap untuknya. …
Wanita itu tampak apik dengan hijab berwarna biru, tengah berjalan bimbang melewati salah satu kota tempatnya tinggal, seskali mengusap peluh air mata yang sesekali melesak keluar dari pelupuk matanya, kemana sosok wanita itu akan terus berjalan ? .

 Entahlah, wanita  sendiri itu pun tak tau, ia kebingungan antara logika dan hatinya sedang berjalan tak beriringan, ia menginginkan sesuatu yang mulia untuk menjadi seorang ‘penulis’ namun semua itu di tentang , bukan , lebih tepatnya kurang disetujui oleh orang orang yang telah membesarkannya. Wanita itu bisa apa, ia mau tak mau harus mengikuti segala yang orang tuanya katakan, bahkan ia telah melakukannya namun lagi lagi ia masih sama, masih terlihat salah dimata seseorang yang disebut sebagai ‘ayah’ nya. 

Apa yang wanita itu harus lakukan, haruskah ia berlari ke arah orang orang di sekitarnya, ke arah sahabatnya, ia hanya mampu megadahkan kepalanya menatap langit jingga sore itu yang berwarna orange gelap, kerana matahari sepertinya sedikit bersimpuh malu untuk menunjukkan sinarnya. Sekali lagi wanita itu bertanya haruskah ia berlari ke arah sahabat sahabatnya, ia memilih jalan itu, namun orang yang ia anggap bisa menjadi sandarannya hanya mampu bertanya hanya sekedar untuk ingin tau tidak dengan kepedulian melainkah hanya ingi tau, terlalu miris ia kembali menundukan kepalanya saat wanita itu tak mampu mencari tempat sandaran kepada sahabat sahabatnya…..

Di ujung jalan yang tak berujung ia menghentikan langkahnya, saat melihat sosok wanita paruh baya mengadahkan dan menjulurkan tangan untuknya, ia menangis ia meronta, wanita itu lemah ia segera berlari menuju wanita paruh baya yang tengah tersenyum tulus kepadanya, wanita paruh baya itu tak bertanya apa yang terjadi melainkan ia memeluk wanita muda itu memeluknya sangat erat.

 Wanita muda itu bertutur kata dan terus mempererat pelukkannya, ia  mengadah langit dengan buliran bening yang terus saja menggenang di kelopak mata hazzelnya.  Ia bertasbih berbicara dalam hatinya, ‘Tuhan aku bodoh , ya aku bodoh aku terus mencari siapa yang peduli terhadapku aku tak menemukan itu dari sahabatlku ataupun siapa pun mereka tak begitu peduli, mungkin memang sosok aku yang bersalah sehingga membuat mereka tak peduli denganku, Tuhan maafkan segala kesalahanku, aku berjanji ingin memperbaiki semuanya ingin bertahan dalam dunia fana mu yang sementara ini, ingin sukses, aku ingin itu tuhan aku ingin melihat senyum bangga tercetak jelas di sudut bibir ibu ku, iya ibu ku’  Wanita itu terus berucap dalam hatinya air mata terus membasahi pipinya, ia melihat ke arah mata ibunya, ke arah wanita yang membuat dirinya harus terlihat kuat.

Apakah setiap wanita harus mengalami seperti itu, harus mengalami kehilangan, kejatuhan bahkan sakit hati untuk menuju syurga Allah ??. Bukankah wanita di ciptakan sebagai makhluk yang terindah yang menghiasi muka bumi ini, setiap wanita di berikan sebongkah hati untuk mampu menciptakan hati yang kuat ,hati yang berttawakal dan, hati yang berbudi akhlak mulia, Bisakah setiap wanita menjadi kuat dengan berbagai cobban itu, mampukah setiap wanita memiliki hati seperti kaca yang terlihat kuat dan jernih bercahaya.

Hanya air mata yang mungkin mampu menjadi persinggahan terakhir setiap wanita bila ia terlelah, hanya mampu mengadahkan tangan meminta dan memohon kepada sang pecipta untuk memberikan yang terbaik.
Tuhan doa ku malam ini hanya ingin terus di jalanmu hanya ingin mendapatkan orang orang yang benar benar peduli dengan diriku, aku hanyalah wanita biasa yang kau ciptakan aku tak mampu terus terlihat kuat, izinkan aku terlihat lemah hanya di hadapanmu dan di hadapan ibuku, tunjukkan jalan terbaikmu, jalan menuju kesuksesan dan kebahagianku, akan ku jemput semua itu……

Berikan aku orang yang terbaik menurutmu untukku, berikan aku cahaya jalan indahmu…….

Sapaan Dari sejuknya rintikan hujan



lagi da lagi selalu bercerita tentang ia, tentang  pria hujan....

hihihi gapapa kali ya :p

Rintikan hujan sore itu membawa sapaan hangat terlontar dari bibir indah itu, bibir yang selalu mengukir senyuman, dengan dihiasi oleh kedua bola mata sipitnya yang memandang dengan pancaran hangat,  ia selalu menyapa dengan penuh kehangatan nan lembut, perpaduan yang unik bukan?. Bahkan aku mungkin belum mengetahui sosoknya yang nyata, namun entahlah sapaan itu mampu membuat ku terlarut walaupun hanya sesaat.

Sapaan yang selalu mengalir setiap waktu pagi, malam, atau siang hari ketika matahari mampu memberikan sinar  triknya yang amat menyengat, namaun panas nya sinar orange itu tak menyurutkan aku untuk terus menunggu sapaan hangat itu, sejak awal bertemu yang ku tau kau begitu ramah dengan sapaan indah itu, mungkin terlalu klasik alasan ku saat ini terjatuh dalam pandangan bola mata sipit milikmu, bahkan aku belum mengetahui siapa kamu, bagaimana dirimu, bagaimana kau yang sebenarnya. Namun sudah terjatuh begitu cepatnya karena sapaan hangatmu yang selalu terlontar dengan hangat.

Awal desember  dimana sapaan di mulai, saat kau mungkin tak meganggap semua itu nyata semua itu terpatri tepat di limit otakku, selalu menghantui bahkan seperti heroin yang selalu menyelimuti menunggu bagaimana bisa bercengkrama hangat lagi dengamu, perkataan hangat, kepedulian sosokmu yang menjadikan ku mungkin terlalu dalam untuk melihatmu, untuk merasakan jika benar benar kau itu nyata tapi semua itu semu, dahulu semua itu semu.

Senyum kembali harus pudar ketika sapaan hangat itu ternyata bukan hanya milikku, terlalu banyak yang kau sapa dengan begitu hangat, mungkin aku yang terlalu berlebih mengganggap semua ini, mencoba bersikap layaknya air yang senantiasa tenang saat ia tak di usik. Kau kembali menyapa ku  dengan kepedulian yang teramat indah, kau berbicara layaknya tetesan hujan yang dengan sejuknya menyirami tanah bumi, yaah kau menyukai itu menyukai tangisan bumi, menyukai Rintikan hujan yang terus saja menyapu kota yang saat ini kita pijakki, kau menyukai hujan itu yang kutau, aku kembali membuka mata saat kau bercerita tentang  apa itu arti hujan, saat kau berbicara apa itu kedewasaan, kau berkata ‘dewasa itu sulit harus mengenal cinta dan cinta itu  rumit’ inikah dirimu, inikah engkau dengan sejuta penuh Tanya aku menatap mu, sepertinya salah satu rongga tubuhku kau bawa pergi saat hentakan kakimu dan punggung  tegapmu menjauh dari hadapanku untuk menemui seseorang di ujung jalan sana yang menunggumu, seorang wanita, yah wanita….

Mungkin aku menatap mu semu ,aku tau esok kau akan kembali lagi kesini, kembali menyapaku dengan sapaan kembali mengulurkan tanganmu untuk meraih dan menggenggam erat tanganku. Namun wanita yang kini berada di dekatmu membuat se eogok perasaan aneh mengalir di dinding relung jiwa ku, seperti tertohok aku menjatuhkan buliran bening di pelupuk mata ku sendiri, kesakitan itu, mengapa aku menangisi mu itu yang ku pertanyakan.

Benar bukan kau kembali dengan sapaan hangatmu dengan sentuhan lembutmu  itu, kau selalu memperdulikan aku  , namun malam itu kau Nampak berbeda sepucuk sapaan serta penuturan katamu terlontar begitu jelas, membuat seluruh persendian ku remuk, tak mampu lagi menopang diri , aku tau ini semua fake world, heey kau tau apa artinya bertemu denganmu di dunia ‘fake world’ membuat aku harus terjatuh, saat kau berkata ‘datanglah aku akan mengikat janji esok bersama gadis itu’ aku hanya mampu tersenyum pahit dan mengangguk menatap senyum sapa mu, mengamati tingkah lakumu yang se enaknya saja memperlakukan aku malam ini dengan istimewa layaknya aku adalah wanita untukmu, namun semua itu semu. Mungkinkah hanya akuh yang menatap itu berlebih, yaah mungkin itulah kesalahanku. seharusnya aku tak seperti itu, namun kau bisa apa ??

Kau tau aku hanya mampu melihat mu dari kejauhan mengawasi dirimu yang saat ini tengah bersenang senangg dengan ‘gadismu’ aku kembali harus menata semuanya, menata perasaan sakit ini.
Warna jingga itu menghiasi pagi ku seharusnya aku mampu menatap pagi ini dengan senyum cerah saat aku sudah merencanakan untuk pergi dan melepaskan senyuman hangatmu, bahkan seseorang disana yang selalu menanti ku dengan nyata ku abaikan hanya karena aku terjatuh begitu dalam dalam sapaan serta tingkah hangat kenyamanan yang kau berikan telah melampaui batas kewajaranku, aku sudah terlalu jauh terjatuh kedalam hidupmu, kau torehkan semua cerita indah, kau berikan kehangat dan kenyamanan itu namun semua itu tiada kepastian, kau mampu menjadi sahabat teman kakak kekasih  musuh bahkan panutanku, mungkin hanya aku yang menganggap semua itu lebih. Aku mungkin akan mencoba kembali  menatap orang yang telah ku abaikan, namun saat itu kau kembali menghampiri ku menatap ku dengan ketidak pastian bertanya dimana aku saat malam tadi, kau mencariku, benarkah kau mencari aku ??. 

Kau merancau berkata aku tak peduli denganmu karena aku tak datang , kau berkata aku tak peduli lagi denganmu aku berubah tak ada lagi kehangatan untuk mu yang kuberikan, itu perkataanmu. …..
Hey sanggupkah aku melihatmu bahagia dengan gadis lain, kau merancau kau menangis  meminta ku agar kembali menatapmu kembali menyapa dan menggenggam tanganmu. Membuat buliran bening di pelupuk mataku kembali terjatuh, dan lagi lagi aku mengalah ,lalu siapa ‘gadismu’ bagaimana ia jika kita terus seperti ini, semua pertanyaan itu seolah harus aku telat bulat bulat tanpa harus menanti jawaban, yang ku tau kini hanyalah kembali menatapmu dan kau tersenyum kembali menyapa ku dan membuatku melihat ke arahmu lagi dan lagi . 

Hari demi hari aku lewati dan ku pijaki dengan perasaan sangat indah, kau selalu torehkan cerita yang berbeda,, perlahan aku sangat mengenalmu angat tau bagaimana kau, begitupun sebaliknya…
Seiring berjalanya sang waktu  aku mencoba melepasmu, mencoba tak menghiraukan sapaan hangatmu, mencoba tak memperdulikan bagaimana tentangmu, meskipun langkahku terseok saat itu terjadi saat aku harus berpura pura tak menyapa mu setiap pagi siang atau malam. Saat itu kau sadar kau menarikku  dan memberikan pertanyaan yang begitu menohok kau bilang, ‘kau kemana, tak pernah menjawab sapaan ku, tak pernah menyapaku” kau berkata kau menangis kau menjatuhkan buliran bening dari pelupuk matamu, sebenarnya apa aku ini untukmu??.  Kau menahan ku pergi saat banyak wanita yang mendakatmu, namun kau pun tak memintaku untuk tinggal seutuhnya di dekatmu.

Kau meminta aku berucap agar aku tak seperti ini, kau selalu meminta  agar aku selalu berada di sampingmu di dekatmu, yaah aku  lagi lagi menuruti perkataanmu, aku kembali mengabaikan orang yang tengah menunggu ku waktu itu, hingga sekarang orang yang menunggu ku itu pergi berlalu namun aku tak peduli, aku terlalu focus dengan sosok hangatmu, meski aku tau terlalu banyak wanita mengelilingimu , terlalu banyak fakta berbicara bahwa di luar sana banyak gadis lain bersamamu di dekatmu, bahkan juga merasakan sapaan hangatmu.

Kau selalu menyapa ku, menyapa dengan hangaaat dan kehangatan itu selalu menjadi pupuk terindah yang mengawali pagi hari untukku, seiring berjalan nya waktu banyak hal kita ketahui satu sama lain, kau banyak bercerita begitu pun aku, sosokmu menjadi begitu hangat, kau bercerita tentang gadis yang kau lepas, tentang satu wanita yang sudah kau lepas dan kini semakin banyak lagi wanita yang berada di sekelilingmu, mungkinkah ini senja terakhirku bersamamu, entah aku lelah , aku ingin pergi namun kembali kau menahan, namun ku putuskan  aku tetap pergi.

Beribu senja yang ku lalui tanpa sapaan hangat darimu, membuat aku terus teringat akan sapaan hangatmu, akan sentuhan serta ocehan klasik yang selalu kau lontarkan, kini yang ku tau kau berasama seorang wanita dan aku pun bersama lelaki lain. Tak dapat ku pungkiri sosokmu terus menghantui hari hari ku, bahkan taka da sedikit pun ruang untuk lelaki yang kini tengah bersama ku, semua ruang itu telah dipenuhi oleh dirimu, bagaimana ini ??. Bagaimana aku menyikapi ini semua?

 Namun saat sosokmu  kembali menyapaku, entah dari mana kau kembali datang kau kembali dengan senyuman serta sapaan hangat yang terus berceloteh indah . Kau memelukku erat menyapaku setiap saat memberikan ribuan kenyamanan yang selalu terukir indah, entah apa ini kau selalu kembali yaah kembali lagi di sampingku….

Sosok mu datang setiap detik aku membutuhkanmu, membuat lelaki yang kini bersamaku  menjauh, lebih tepatnya aku menjauhkan diriku dari lelaki itu, aku kembali terhanyaut dalam dirimu dalam dekapan hangat dan sikap mu. Kau berjanji tak akan kembali meninggalkan aku, kau memberikan semua nya kali ini sepucuk mawar putih serta celotehan dan dentingan piano yang terukir dari jari indahmu membuat ku terus hanya terfokus pada sosok indahmu, namun tetap tak ada kepastian yang real yang kau berikan yang kau utarakan, namun kau selalu berucap aku ini milikmu aku ini kekasihmu, kau memperlakukan aku layaknya putri terindah dihidupmu, aku mencoba menahannya tentu karena kebahagiaan yang menyelimuti ku, aku bahagia aku nyaman aku tenang jika kau benar benar ada selalu menyapa ku selalu memberikan support ataupun selalu menghiasi hari hari dalam hidupku. 

Kau memutuskan hubungan dengan banyak wanita itu, satu persata dari ‘wanita mu’ kau lepas, kau menatap ku, mungkinkah kau ingin aku, kau ingin kita, Atau hanya karena rasa bosan mu terhadap wanita wanita mu itu, entahlah……..
Kau hanya terus bungkam tak pernah berkata, hanya selalu mengatakan kau tak akan meninggalkan aku, akan selalu seperti ini tak ada yang berubah kau bilang aku lah kekasihmu, namun kapan tepatnya aku menjadi kekasihmu pun tak kau berikan. Ada hal yang perlu kita selesaikan namun hingga saat ini aku terlalu takut membahasnya, aku sangat mencintai mu terlalu sangat kau pun sering berkata seperti itu meski terkadang aku tak paham dengann jalan fikiranmu…

Namun kau harus tau, kau itu mampu membuat segalanya berwarna untukku, aku mencintaimu, aku berharap kita akan terus seperti ini, walau aku tau saat ini masih ada segelintir wanita di sekelilingmu, namun aku percaya kau akan menjaga ku dan akan menepati setiap janjimu. Janjimu yang akan terus mengalun hangat di sela sela tetesan hujan yang selalu menjadi saksi kebisingan  indah hidupku denganmu.
Kau selalu terselip di setiap doa yang ku hanturkan di setiap sujud sembah ku di hadapan Tuhan. Aku ingin kau kembali meyakinkan aku bahwa aku memang untukmu, aku ingin selalu bersama saling menyapa denganmu saat Rintikan hujan turun ke permukaan bumi, aku ingin merasakan hangatnya pelukkanmu di tengah dinginnya hujan yang membasahi bumi.

 I Love You soo much :’) ……………………..

Jumat, 19 September 2014

Bahagia ?

Kebahagian..

Satu jenis kata yang mungkin akan menggambarkan setiap keadaan manusia, keadaan yang sangat ingin dimiliki manusia, bukankah sebuah kebahagiaan hanya perlu di daoatkan dengan cara sederhana.

Bahagia itu sederhana hanya perlu tersenyum emnggunakan hati yang tulus tanpa sedikitpun ada rasa keterpaksaan ataupun kesedihan. bukan tidak mungkin , bahkan setiap manusia mempunyai masalah hidupnya masing masing, namun sepertinya dari setiap kejadian kita harus bisa menggambil apa inti pelajaran dari masalah tersebut. Sudah di sebutkan bahwa Tuhan akan memberikan kebahagian yang amat menyenangkan ketika umatnya mampu melewati setiap masalah masalah hidupnya .

Dan kali ini aku kembali mengalaminya, setelah apa masalah yang Tuhan berikan, sulit bahkan sangat sulit ketika harus kehilangan seseorang yang mampu menjadi peyangga serta menjadi sandaran hidup. sangat sulit rasanya untuk kembali melangkah tanpa seseorang yang mungkin kini tengah tertidur tenang di hadapan Tuhan.
Dan yangs ekarang harus aku lakukan kembali tersenyum dan kembali menatap kehidupan tanpa harus sedikit pun melupakan tentang seseorang tersebut.

Dan sekrang aku mencoba kembali berdiri demi kedua orang ibu yang kini kumiliki. Saat ini aku telah mempunyai dua orang ibu yang harus ku bahagiakan yang yang harus kubuat bangga, aku harus mampu mengukir senyum di sudut bibirnya, agar kedua wanita paruh itu mampu tersenyum bahagia atas kebanggan ku kelak. dan satu lagi karena pria itu, pria hujanku yang telah pergi, karena ia juga aku harus kembali menatap hidup mencapai segala cita cita....

kedua orang ibu, yang merupakan wanita yang amat mulia kedua wanita yang mempunyai hak yang sama untuk aku bahagiakan.
Ingin sekali kelak saat aku dewasa memiliki keluarga seperti keluarga ka eva. keluarga kecil yang saat ini telah mempunyai dua jagoan kecil yang kembali yang hidup dalam kesederhanaan dan tentunya kebahagian.

Dan lagi lagi tanpa sedikitpun aku melupakan tentang pria itu
dan sekarang aku hanya perlu bangkit, melanjutkan cita cita. (fighting for me)

Sekian dulu deh aah cerita cerita gk jelas nya, kangeen banget sama si sipit kaca mata itu ..

Love ya:") 

Gone



15 September 2014

Kepergianmu,.

Kepergian sosok pria hujanku

DI hari ini, di tanggal yang sama seperti bulan lalu aku masih mampu mengingat bagaimana air mata terus terjatuh bagaimana kaki ini melemas saat melihat pria-ku . Pria penyuka hujanku yang selalu mempunyai sisi terindah terpejam tertidur tenang dan meninggalkanku. Masih dengan jelas tergambar air mata yang hingga kini belum mongering dan selalu berajak keluar ketika selalu mengingat moment moment terindah bersama pria itu. 

Tak dapat di pungkiri rasa rindu rasa tak rela itu selalu membelenggu ketika pria itu meninggalkanku . Tak ada kata lain yang mampu ku ungkapkan lagi ketika bersamanya, melebihi kata bahagia jika aku mampu terus bersamanya.

Namun mengapaa sepertinya takdir Tuhan membuat kami berjauhan , mengapa begitu cepat Tuhan meminta pria ku kembali dan meninggalkanku. Dengan langkah yang masih terseok tak seharusnya aku mengeluh, mencoba mengikhlaskan itu bukanlah hal yang mudah . Tapi bukankah itu semua sudah terjadi. Apa yang harus kulakukan huum?

Tentunya harus tetap melangkah melanjutkan hidupku, namun lagi lagi aku kembali terjatuh saat tak ada lagi sosok seperti pria hujanku yang selalu membantuku berdiri membantuku berjalan dan memberikan tutur kasih sayang serta support . Aku membutuhkan sungguh membutuhkan nya seperti dulu , membutuhkan peluk hangat tangannya, membutuhkan uluran tangannya serta celotehan celotehan hangat yang tertuang langsung dari bibirnya.

Aku kehilangan sosoknya, aku kehilangan penyemangat dan penyangga hidupku. Namun aku harus kembali berdiri sendiri demi ibuku, yah demi wanita yang telah melahirkanku aku harus kuat menahan segala keluh kesah, menahan segala amarah dan masalah. Kini tak ada lagi sosok itu, tak ada lagi sosok tempat istirahatku, tempat ku untuk menyandarkan tubuh dari rasa lelah. aku merindukannya, merindukkan pria penyuka hujanku, merindukkan tatapan hangatnya dari balik mata sipit yang ia miliki, aku merindukkan senyum hangatnya serta bibir tebalnya yang selalu mengeluarkan ocehan ocehan bising yang mampu membuatku selalu tertawa senang. 

Tuhan bagaimana mungkin aku melewati ini, melewati setiap pertengkaran dan masalah yang selalu datang tanpa pria itu, selama ini ia yang selalu memberi ku semangat selalu membantuku aku bergantung padanya. Apakah ini semua berlebihan entahlah aku sendiri tak paham, aku sudah terlalu lama bersama nya, terlalu banyak hal yang kami lewati bersama, terlalu lama aku menjali rutinitas bersamanya. Aku terbiasa dengannya dengan pria itu.

Masih teringat sampai sekarang bagaimana tangan hangatnya selalu menyentuh tanganku, selalu memelukku ketika menangis ketika aku kalut dan takut terhadap kilatan cahaya langit ketika hujan turun. Aku masih mampu merasakan bagaimana hembusan nafasnya, bagaimana suara serta aroma tubuhnya. 

Sungguh sangat sungguh aku bukan hanya merindukkannya, aku membutuhkannya. Membutuhkan support darinya. Wejangan wejangan serta segala perlakuan terindah darinya. Masih terus terukir indah ketika saat itu kami bercanda pada segelas jus mangga yang mampu membuat kami terbahak bahak tertawa, hanya dengan satu canda hangat di ujung senja. Saat tangan kekarnya kebali mengelus rambutku mengacaknya dengan perlahan . Aku merindukkan perlakuan itu, saat aku menangis dan merengek memeluk manja terhadap dirinya ketika aku menemui suatu masalaha terhadap teman ataupun ayah ku sendiri. 

Aku memeluknya manja sembari menangis, dengan telaten tangan kekarnya selalu memberikan pelukkan ocehan ocehan serta sapaan yang keluar dari bibirnya selalu mampu membuatku sedikit tenang.
Saat ia kembali membimbingku untuk selalu menunjukkan jalan kebenaran, ketika sosoknya selalu berada di sampingku selalu mendampingi . Bahkan keberadaannya selalu kubutuhkan dan tak akan pernah ada yang bisa menjadi dirinya. Kenapa pria itu begitu cepat meninggalkanku begitu cepat tertidur untuk selamanya. Padahal ia berjanji tak akan pergi sebelum aku yang menyuruhnya tapi mengapa sekarang ia pergi??
Bukankah pria itu sudah melanggar janjinya, ia selalu berpesan untuk aku tak selalu menangis, namun bagaimana bisa air mata ini tak selalu mencuat ketika aku tak memiliki lagi semangat yang selalu membantuku. 

Teman??

Persetan dengan kata kata teman, apakah mereka mampu menjadi sosok seperti pria hujanku, tidak tidak sama sekali mereka tak mampu seperti itu, mungkin mereka hanya mampu menilai dari luar bertanya tanpa sedikit pun rasa care hanya keingin tahuan yang mereka inginkan bukan suatu perhatian atupun care. Mereka hanya mampu mengolok olok hanya mampu mengoceh dan terus berjanji blab la bla….

Berjanji tentang apa yang mereka inginkan, selalu berkata akan selalu menemaniku ketika sosok pria hujanku pergi. Tapi nyatanya saat ini apa mereka memenuhi janji itu. Tidak tidak sama sekali mereka sibuk dengan kehidupan mereka Mereka menakana diri mereka temanku,. haaah teman bukankah itu perlu di pertanyakan
Tidak aku bahkan tidak membenci mereka mereka pun memiliki kehidupan serta aktifitas tersendiri, tapi tak seharusnya mereka berjanji seperti itu, berjanji akan sellau ada yang naytanya mereka sama sekali tak memperdulikanku. Aku muak sangat muak. mereka berbeda dengan pria hujanku.

Aku merasa seperti kini aku sedang berada di titik jenuh dalam kehidupan. Aku hanay mampu bersujud berdoa di atas sajadah panjangMu Tuhan bantu aku, jujur aku sangat ingin bertemu dengan pria hujanku, jika kau boleh meminta kembalikan dia Tuhan kembalikan pria hujanku.

Hanya menjadi dua factor untukku menjadi sukses saat ini, mampu melihat senyum bahagia dan senyum bangga di wajah ibuku dan wajah pria itu. Pria hujanku. aku sangat mencintai kedua orang itu. Hanya mereka berdualah yang selalu menjadi alasan ku untuk menuju kesuksesan….

Aku terlalu muak dengan masalah yang selalu datang, selama ini aku selalu bisa mengatasinya selalu mampu karena pria itu selalu disampngku selalu memeberikan semangat serta memberikan bahu tegapnya menerima segala keluh kesah ku . Namun kini siapa lagi yang mampu memberikan kenyamanan itu, apakah ini jalanmu Tuhan untuk menjadikan ku lebih dewasa??

Bantu aku Tuhan untuk menerimana, aku harus mampu menatasi segala masalah ini, tanpa bantuan siapapun. Tuhan aku sadar aku sangat lemah tanpaMu bahkan aku tak memilik apapun. Aku hanya meminta satu kembalikan Pria hujanku, tapi itu tidak mungkin. Ia sudah tenang…….

Aku hanya terus berharap dan dapat segera menyelesaikan tugasku di dunia untuk membahagiakan ibu, yaah hanya itu. Pria hujanku sungguh aku sangat membutuhkan sosokmu, sangat merindukanmu…..