Hujan,
Salah satu kejadian di alam semesta ini dimana seseorang
dapat menyebutnya air mata dari langit.
Akankah itu benar?. entahlah aku pun tak paham. Bukankah
hujan salah satu anugrah Tuhan yang harusnya kita syukuri. Namun mengapa
sepertinya aku nampaknya sangat tak menyukai tangisan bumi itu, aku tak
menyukai ketika Rintikan Rintikan air itu mulai dengan derasnya membasahi tanah
di bumi yang mungkin akan mengakibatkan udara menjadi sejuk. Apakah tak
menyukai hujan merupakan kesalahan? . Ya aku gadis pembenci hujan karena hujan
mungkin akan membuat dirinya merasa sendiri merasa sesakit saat mendengar suara
amukan langit serta kilatan cahaya yang terus terjadi di kala turunnya hujan. Namun
sebaliknya pria itu, pria yang memiliki mata sipit serta berperawakan tinggi,
Pria yang di kenalnya melalui seuntai kata sapaan hangat yang mampu membelenggu
setiap jiwa yang mendengar bahkan memahami arti setiap perkataanya.
Pria itu , lagi lagi pria itu seperti heroin. Lelaki yang
memiliki kesukaan tersendiri terhadap Rintikan air langit, ya ia menyukai
hujan, menyukai kesejukan bau tanah
basah yang disirami dengan eloknya Rintikan tangisan bumi. Terkadang aku
bertanya mengapa ia menyukai hujan, mengapa ia teramat merindukan kehadiran hujan.
Namun semua teka teki akan hujan awalnya tak akan terkuak,
sebelum laki laki itiu mampu memperlihatkan jiwa dan sisinya tersendiri.
Seorang sosok lelaki dengan penuh sapaan hangat serta tangan kekar yang
senantiasa terkadang bertindak seenaknya dengan kemampuannya, mampu menguasai
hampir seluruh hari hari ku. Mapu menyisihkan ruang tersendiri dalam ruang
terdalam di diri sendiri.
Pria yang pernah memberikan mawar Putih serta dentingan
piano yang amat mempesona, yang dapat menyejukkan serta membuat semburat
senyuman dan rona merah di pipi terpancar saat sepenggal kata cinta serta tutur
bahasa yang apik keluar langsung dari bibirnya. Bibirnya yang selalu
memancarkan kecupan hangat setiap paginya. Seperti tetesan air di gurun pasir,
pria itu perlahan datang dengan sapaan hangat setiap pagi siang ataupun malam
hari, selalu menghiasi bahkan menemani segala keluh kesah.
Apakah sebuah kesalahan? terjatuh begitu dalam terhadap
sosok pria itu, pria berkaca mata, yang menyembunyikan elok mata sipitnya di
balik beberapa inci lensa bening yang memperlihatkan sekilas pancaran hangat
dari kedua bola mata indahnya.
Tubuhnya yang selalu ia berikan pundaknya, serta dentingan
piano itu mampu memberikan kesan tersendiri untuk mencapai kadar semangat .
Mungkinkah pria itu mampu merubahku untuk tak membenci hujan? . untuk selalu
terbiasa dengan hujan yang senantiasa terkadang turun dengan seenaknya tanpa
perintah ataupun komando dari setiap insan manusia.
Ataukah justru pria itu yang
mampu menjadi kilatan langit cahaya yang menakutkan. yang dapat membuat
hati remuk. Di sela Rintikan hujan hari itu, pria dengan sapaan khasnya kembali
selalu merangkul ku, membawaku bangkit dari keterpurukan sesaat . Keterpurakan
yang dialami gadis belasan tahun. Bukankah masih terlalu ranum bagi seorang
gadis menyikapi segala sapaan dari pria itu, sapaan yang terlalu hangat, sapaan
yang Seolah mengkhawatirkannya, sapaan yang selalu memperhatikannya lewat sederet
kata serta sikap yang memancarkan daya Tarik kenyamanan tersendiri ,
Pria yang ternyata…..
Waaw memiliki
kesamaan dalam hal membaca, menyukai sederet untaian kata manis yang tersusun
apik dalam setiap lembar novel kesukaannya, yaah pria itu menyukai membaca
lembaran lembaran kisah apik yang menyentuh. Bukan ia bukan seorang pria dramatis
yang penuh kata cinta, ia hanya seogok pria yang tak ingin menyia nyiakan waktu
luang dengan hal yang sedikit aneh. Ia juga bukan pria baik yang hanya menekuni
sebuah dereta kata buku, ia hanya pria yang mampu memahami setiap keadaan yang
mungkin selalu aku alami. Itu yang ku tau. Pria dewasa berumur hampir dua puluh
tahunan yang selalu menemani gadis belasan tahun seperti ku. Bagaikan membawa
seribu kupu kupu warna warni sosoknya datang dengan penuh warna menimbulkan
hasrat untuk merindukannya setiap waktu.
Yang selalu mampu menjadi sosok panutan yang tegas penuh support yang
selalu memberikan suguhan terindah kata cinta ,melebihi seorang penyair yang memiki beribu untaian
kata, Bahkan pria itu bukan seorang yang sering berujar kata cinta hanya lewat
tingkah manisnya serta sedikit celotehan lembut yang mampu menyejukkan. Yaah
lagi lagi sesejuk gerimis pagi ini yang terlintas jelas di sudut mata.
Aku tau bahkan sangat tau banyak wanita yang mengelilinginya
entah itu teman sahabat atupun ‘wanita yang menyukai gelak tawanya’ namun yang
ku tahu ia hanyalah sosok pria hangat yang selalu menyediakan pundak memberikan
support serta kekonyolan aneh dan kegalakan yang berada dalam dirinya yang
selalu menjadi pelengkap harihari untukku. Aku tak peduli bagaimana celotehan
orang orang mengenai dia , aku ataupun tentang kami. Yang aku tau hanyalah aku
bahagia bersamanya. Tak aku pedulikan berbagai ocehan atupun celotehan yang
kadang terlontar dengan bisingnya dari mulut mulut seseorang yang amat’
berbisa’ yang bahkan sama sekali tak mengetahui apapun tentang aku dan pria itu
dan juga tentunya tentang kami.
Bukankah ia lelaki biasa yang memiliki nafsu serta ambisi
yang berlebih, tangan kekarnya pagi ini meratap jelas pada keheningan pagi,
pagi yang mungkin terlihat sangat trik karena sang surya sedang gencar
gencarnya memancarkan sinar agungnya. Hey Pria berkaca mata itu tersenyum ,sedikit
membuka helm hitam yang ia pakai dengan sapaannya, menghampiri ku yang sudah
sekitar setengah jam menunggunya di pinggiran kota.
Pertemuan pertama yang mungkin sedikit terusik oleh panasnya
pagi yang menyengat permukaan kulit ‘ hey annyeong, aaah “ sapaan kikuk
tercipta dari mulut ku ,entah apa yang harus aku lakukan saat menatapnya,
seperti ribuan kupu kupu yang berterbangan perut serta hati ku terasa seperti
di gelitik melonjak kegirangan. Namun di balik lensa bening di matanya ia
tersenyum, matanya terpejam dan jaket cokelat yang ia gunakan sedikit bergoyang
karena angin yang berhembus.
Ia menyapaku dengan hangat, dengan tangan kekar yang selalu
senantiasa melingkar pas di pergelangan tangaku. Entah kegembiraan seperti apa
yang harus ku ungkapkan saat bersama pria ini. Sesaat setelah ia menaruh tas ransel hitam serta semua barang barang di
sebuah hotel tempat kota ku tinggal, Pria itu melangkah pasti menuju di mana
kini aku tengah mendaratkan bokong di sofa empuk yang berada di lobi hotel
tersebut. Pria itu masih sama, masih dengan celana jins biru navy serta kaos
hijau dan jaket cokelatnya , ia tersenyum dan menggaruk sedikit kepalanya yang
di tumbuhi rambut dengan potongan sedikit panjang. Pria itu tanpa basa basi
menarik lenganku, tanpa komando ataupun persetujuanku, menarikku untuk mencari
tempat makan. Namun kala itu perasaan aneh muncul, perasaan takut ia menghilang
takut setelah pertemuan ini ia menjauh. diam diam tangannya menarik lenganku
untuk berpegang erat ke bahu atau pinggangnya saat kami di perjalanan.
Hari itu , jalanan yang Nampak lenggang serta daun daun
berjatuhan sepertinya menjadi saksi bisu bagaimana ia memperlakukan ku sangat
indah sangat apik. Saat tangannya dengan jelas selalu mengelus dan mengacak
helaian rambutku. Bau khas citrus floral
yang fresh menyeruak dari tubuhnya tak mengurangi sediktpun kesan hangat dari
diri pria hujanku, parfumAcqua Digio yang merupakan salah satu parfurm keluaran
dari Giorgio Armani, Itulah perfume kesuakaan pria ini. Dengan bau citrus
floral yang fresh mampu memeberikan aku kenyamanan dan membuata ku betah untuk berlama lama bersandar
dalam pundak bidangnya yang tegap, bahkan senyumnya tak pernah pudar. Pria itu
pria penyuka hujanku, tetaplah menjadi gerimis pagi untukku yang selalu membuat
sejuk relung hati ini.
Beberapa hari kedepan mungkin aku masih mampu menikmati
wangi citrus floral itu dari balik tubuh tegapnya, saat kami kembali menyantap
menu makanan yang sudah tertera di depan mata, bahkan pria itu masih saja
sempat bermain mengejek bahkan sekedar menggoda membuat aku harus menahan tawa
geli dan lagi lagi tangannya senantiasa menggacak rambutku, rutinitas yang
menurutnya menjadi rutinitas favoritnya mengacak rambutku, kesukaan yang aneh
bukan?haha
Dengan entengnya ia
kembali tertawa memperlihatkan deretan gigi putihnya yang tersusun amat rapih.
Ia masih mampu merekomendasikan makanan serta minuman apa yang harus kami makan
banyak berjuta rencana yang tersusun bahkan terlontar dari bibirnya, bahkan
waktu makan kami sepertinya tak terasa mengeyangkan karena pria itu selalu
berkata konyol dan bertingkah layaknya seorang anak kecil berumur lima tahun,
masih jelas ketika saat itu, dengan gampangnya dan tanpa sedikitpun rasa malu
ia melempar bahkan merancau seperti seorang bocah yang kehilangan mainan saat aku
kembali merebut kentang goreng serta jus mangga yang kami makan bersama.
Rasanya hari itu teramat bahagia gelak tawa terus mendominasi ,tangannya terus
menggenggam erat .Saat kedua mata kami kembali bertemu rasanya seperti jutaan
kembang api tengah meledak ledak dalam dadaku aaah aku semakin tak terkontrol. Saat tangannya dengan enteng menggiring keningku
untuk selalu berada di sampingnya, kami bermain, yaah bermain sepuasnya hari
itu semuanya penuh dengan keindahan penuh dengan tawa, Seperti mimpi aku bisa
merasakan genggaman tangannya pelukkan hangatnya saat pria iitu dengan sigap
menarik ku kedalam pelukkannya di tengah ramainya pengunjung pusat perbelanjaan
yang tengah berdesak dessakn dalam salah satu lift.
Serta hembusan nafas segarnya saat ia benar benar nyata
berada di depanku. Aku sedikit menundukkan kepala saat perlahan mata kami
bertemu , mata dengan penuh keteduhan itu menatap ku sayu dengan penuh warna,
yah dari awal aku sudah terhanyut dalam kedua bola cokelat yang dapat dilihat
dari balik beberapa inci lensa kaca yang tengah menggantung jelas di depan
matanya. Bahkan kami hingga lupa untuk mengambil satu picture gambar sebagai
moment terindah, kami terlalu sibuk tertawa, terlalu sibuk menikmati keindahan
yang sangat luar biasa. Pria hujanku terimakasih….
Bahkan dinginnya malam itu tak menghalangi hangatnya gelak
tawa kami yang terus saja terukir dengan jelasnya, saat sedikit pancaran terangnya bintang dari atas langit
seperti menjadi saksi biksu moment terindah yang telah kami lewati. Saat aku kembali
terhanyut tertidur di pundaknya saat di jalan pulang. Bahkan tak tersadar
tempat tujuan kami telah sampai. Ia menoleh menepuk tanganku yang menggantung
bebas di sampingnya, membangunkan ku dengan hangatnya, menyuruhku segera
memasuki rumah. Semoga pertemuan ini tidak akan berakhir sampai disini
Seuntai kata cinta selalu terukir, sebisa mungkin aku
menahan air mata saat ke esokkan hari ia harus kembali, harus kembali ke kota
dimana ia tinggal. Pria itu berjanji akan selalu kembali akan selalu menemani
dan menyapaku dengan hangat, aku mengelak saat buliran bening membasahi kedua
mata ini, ia bertanya ‘kau menangis’ dengan cepat aku mengelak mengatakan ini
hanyalah kepingan debu yang memasuki area mataku, membuat aku sedikit menangis.
Ia terkekeh pelan, rasanya aku tak ingin melepaskan genggaman tangannya yang
saat ini masih saja terus menggenggamku saat terus berjalan ke arah parkiran
hotel. “jangan pernah menangis sendirian, jangan manja terhadap orang yang tak
mengerti dirimu. Sampai jumpa rindu itu selalu datang setiap hujan hahah”
itu pesanmu, sembari tertawa pelan kau memasangkan helm hitammu perlahan namun
tetap menggenggam erat tanganku. Ahh aku kembali merindukkan sosok itu. Tolong
hentikan waktu ini agar ia tak cepat kembalili pergi.
Ia pergi, dengan satu kecupan hangat yang mendarat di kening
ku,Kecupan di sore hari yang menjadi nyata seperti sengatan listrik saat
bibirnya mendarat jelas di keningku. Bahkan aku hanya mampu membulatkan mata
saat ia kembali menarik bibirnya dan tersenyum kikuk dan kembali memakai
helmnya. Setelah itu hanya punggungnya yang mampu ku lihat dan perlahan
menghilang di ujung jalan. Di sini di bawah langit yang sama aku terus berdoa,
kaulah pria ku. kau lah merupakan embun pagi dan gerimis pagi yang senantiasa
menyejukkan.
Sudah lama kita berjalan bersama, beribu buliran hujan kita
lewati bersama, bercerita, mengadu dan saling melengkapi. walau terkadang
sedikit perbedaan terus saja mengusik membuat perdebatan kecil terus terjadi. Tak
masalah selama aku masih terus mampu melihat senyum serta tatapan hangatmu, aku
tetap bahagia.
Di balik layar kaca laptop, wajahmu setiap malamnya mampu
menemaniku, melalui media social skype wajah itu suara itu selalu kembali ku
dengar. Bahkan terlihat konyol saat sepasang kekasih dengan mudahnya berjalan
dan makan bersama secara langsung namun kita mampu bersama namun terhalang
layar laptop.
Tak jarang bahkan kita tertidur saat video call itu masih
berjalan, sehingga setiap paginya aku melihatmu terpejam tertidur begitu pulas
dengan eksprsi lucu seolah kita benar benar berdekatan. Berjuta jarak bahkan
harus mampu kita kalahkan , celotehan serta penuturan kata kata manismu selalu
membekas setiap harinya. Hanya mampu
melewati serta menunggu waktu dan rencana apalagi yang akan Tuhan buat.
Bukankan setiap pasangan mampu di ciptakan Tuhan, hingga saat ini pun aku masih
beharap dan selalu dan selalu mengikuti alur waktu ketika aku terus bersama mu.
Pria hujanku…..
Saat kau berlibur ke Singapore, bahkan kita terlalu jauhu tuk
berkomunikasi, kau mengenalkanku pada sosok keluargamu, aku bahagia kau
berceloteh banyak, kau membagi setiap pengalaman kau bercerita bagaimana kau
berlibur saat ini, terlebih saat kau meminta aku menemanimu, tapi sepertinya
Tuhan berkehendak lain, aku tak mungkin menemanimu berlibur jarak itu terllau
jauh untuk diriku. Pria hujanku, selalu merengek meminta yang menurutku itu
sangat klasik, saat nafsumu mulai menggebu. Aku hanya mampu tertawa ,tertawa
karena melihat tingkah konyolmu. Sikapmu selalu menjadi warna tersendiri.
Berbagai hal banyak kita lewati, dan tidak pernah sedikitpun aku melupakan hal
hal ataupun moment yang ku lewatkan denganmu, semuanya tersimpan jelas di dalam
sudut hati…
Kau mampu memberikan
yang bahkan orang lain tak dapat memberikannya padaku, sebuah kenyamanan yang
teramat tulus serta kehangatanmu selalu membelenggu ku, selalu menemani di sela Rintikan hujan yang turun
dengan derasnya di jarak pandang kita yang sangat berjauhan. Di berpuluh puluh
kilometer kita berjarak kehangatanmu selalu terpancar, kau mengajari apa itu
arti kedewasaan, apa itu ketulusan serta
keikhlasan. Semua itu kau ajarkan secara perlahan bahkan kenyamanan yang tak pernah aku dapatkan dari pria pria lain.
Dengan umur belasan tahun aku saat ini mungkin mencoba melewati masa peralihan
dari remaja menuju kedewasaan . Dengan sabarnya kau menuntunku layaknya embun
pagi layaknya pancaran sang surya cahayamu begitu hangat, kau berdampingan
bersama sosok ibu ku membimbingku membantuku di setiap masa sulit. Melalui
celah celah dentingan piano yang tercipta dari jari tanganmu tuts tust serta
nada nada apik tersusun indah mengalun kau kirimkan untukku, mampu mengusir
rasa lelah dari aktivitas yang selalu ku jalani. Support darimu selalu mengalun
indah.
Bahkan tak jarang aku memeluk manja terhadapmu dalam
kelelahan rutinitas, kebodohanku terkadang membuat segelintir pertengkaran di
antara kita. Membuat pria hujanku sedikit ‘mengamuk’ jika sudah begitu aku
harus kembali mengalah harus kembali meredakkan emosinya yang tengah meledak
ledak, salah satu sifatnya ‘galak’ Pria hujanku mampu menjadi sosok yang begitu
‘garang’ saat sesuatu yang tak ia sukai
terjadi, dan kuharap aku mampu memakluminya. Karena sosok itulah yang mempu
merubahku menjadi lebih dewasa, yang mampu mengenal apa itu Cinta, karena
sesungguhnya kedewasan dalam cinta begitu rumit. Dewasa itu sulit harus mengenal cinta, dan cinta itu rumit. Itulah
sepenggal kata yang selalu ku ingat saat ia kembali berceloteh dengan gagahnya,
dengan tubuh tegapnya. Namun sosok kekanak kanakkannya terkadang masih terlihat
nafsu ambisius seorang pria sering terpancar ketika ia sedikit menggelitik.
Aku
hanya mampu bergelak tawa saat itu terjadi. Karena itulah warna, warna
kebersamaan yang selalu kau pancarkan. Terkadang hitam suram saat kita
bertengkar, namun terkadang merah muda saat kita slaling bermanja atupun
terkadang bening seputih susu saat kita sedang sibuk dan hanya mampu terdiam
tak merasakan apapun hanya sekedar kata pengingat dan sapaan sesaat., atau
sering juga berwarna merah saat semangat kita berusaha untuk yang terbaik.
Begitu warna yang kau ciptakan. Begitu hebat bukan……
Aku selalu ingin menikmarti berbagai warna denganmu,
melewati Rintikan hujan yang sangat kau sukai. Perlahan kau mengajarkan untuk tak boleh terlihat lemah di hadapan
siapapun tak boleh terlalu baik bahkan terlalu menggantungkan diri dan percaya
terhadap orang lain. Karena hati manusia itu mampu berubah ubah, mampu saling menyakiti.
Itu yang kau katakan
Seuintai kalung serta beberapa hadiah kau kirimkan saat aku
menginjak pertambahan usiaku, aku tau kau tak bisa secara langsung menemani
disini, namun lewat video call kita malam ini mampu membuat secercah air mata keluar
dari sudut mataku, saat melihat dengan jelasnya kau bernyanyi memberikan
selamat ulang tahun serta harapan
harapan yang kau harapkan dari ku untuk hidupku yang lebih baik. Air mata
kebahagian itu terlalu banyak meluncur dari sudut mataku, rasanya aku ingin
memelukmu mendekap dan kembali merasakan aroma citrus floral yang memancar dari
tubuhmu, Aku menerima hadiahmu, bahkan selalu kuganakan.
Terima kasih, terimakasih pria hujanku.
Begitulah aku memanggilmu.
Saat ini aku terlalu terbiasa dengan keberadaanmu. bolehkan aku mengatakan aku
mencintaimu sesederhana Rintikan hujan yang kau sukai, begitu sederhana aku
mencintaimu, sebanyak gerimis pagi yang menyejukkan.
Hujan…
Hujan pagi ini, pagi dimana hari nan fitri tiba, semua
muslim senang menyambutnya. Tak terkecuali kau dan aku, menyambutkan dengan
gelak tawa seperti malam tadi kau terus berceloteh kau terus menggoda dan
membuat rona merah di pipiku selalu terpancar. Seharusnya pagi ini aku
bersemangat, namn entahlah sampai malam taka da satupun sapaan hangat yang ku
terima darimu. kemana engkau? . kemana pria ku? huum?.
Sejuta Tanya terus menghantui, ia tak pernah seperti ini
sebelumnya. Tak ada kabar, aku mencoba memahaminya mungkin ia hanya sedang
sibuk dengan keluarganya karena inikah hari yang fitri. Aku masih dengan gelak
tawaku disini bercanda dengan beberapa tamu kedua orang tua, se saat aku
menolehkan kepala saat melihat deringan handphone ku yang tergeletak begitu
jelas di meja kayu aku meraihnya membuka sebuah pesan dari seorang sahabat pria
hujanku.
Seolah pusat tubuhku terhenti saat membaca pesan itu, Pria
ku, gerimis pagi ku kini terbaring lemah memejamkan mata di sebuah rumah sakit,
akibat kecelakaan pagi tadi seusai melaksanakan shalat IED. Tuhan apalagi
rencamu mu kali ini tolong lindungi pria ku, perlahan langkahku terseok, saat
memasuki kamar tangis ku pecah saat mendengar suara di sebrang telfon seorang
wanita yang tak lain ibu dari pria ku . Dengan suara serak wanita separuh baya
itu berkata kebenarannya anak sulungnya tengah tergeletak terpejam dengan
beberapa selang infus serta pemacu jantung yang berada di tubuhnya.
Ahhhk, aku kembali menangis, Ku redam suara tangisku yang
kian memecah saat melihat beberapa fotomu yang dikirm, wajah pucatmu bahkan
mata sipit yang dulu selalu aku manjakan selalu aku sukai kini tengah terpejam
dengan banyaknya selang infus yang menjerat dan monitor pengatur tekanan
jantung tergeletak tepat di sebelah pria ku. Tuhan lindungi ia lindungin
priaku.
Sudah hampir dua minggu kau terus tertidur, apa kau tak
lelah huum? Pria ku , wajah pucat mendomisi wajahnya, mata indah itu masih terus terpejam tangan kekar serta jari jari
panjang yang dulu menggenggam erat tangku kini tergolek lemas dengan banyak
tusukan jarum infus, mulutnya yang juga ada beberapa selang pembantu pernafasan membalut tubuhnya, Tuhan
aku lemah tolong selamatkan ia jangan ambil pria ini. Tuhan bantu aku dalam
rencanamu, Tuhan tunjukkan jalan terbaikMu, berikan aku kesabaran untuk terus
menjaganya dan menunggunya kembali untuk membuka matanya mendengar suaranya
serat merasakan hangat peluknya.
Tak dapat di pungkiri aku merindukkannya sangat merindukkan
celotehan panjang yang selalu terlontar merindukkan gelak tawanya, ini seperti
mimpi bahkan sebelum ia kecelakaan ia berjanji akan memberikkan sepatu
kesayangan miliknya, akan kembali menemaniku untuk menonton sebuah
perrtunjukkan konser idolaku. Tuhan tolong selamatkan pria ku jangan ambil
warna kebahagiaan dalam hidupku…..
Bukankah kau telah berjanji bahkan kau selalu berucap ”aku
tak akan pergi sebelum kau yang menyuruhku pergi, pegang janjiku” itu penuturan katamu, aku tak akan
menyuruhmu pergi, jadi aku percaya kau tak akan pergi. Pria ku , aku yakin kau
kuat, aku yakin kau begitu sanggup melewati masa kritismu, tak akan pernah lupa
doa ini selalu terukir indah di setiap sujud shalat, namamu selalu mengalir
deras di setiap doa ku.
Pria hujanku…
Bukalah kedua matamu, pancarkan lagi kehangatan itu….
Maaf aku tak mampu menetapi janji untuk tak menangis secara
terus menerus. aku akan terus berusaha mewujudkan keinginamu menuruti segala
nasehatmu. aku mohon buka matamu….
Hujan……….
Gerimis pagiku ,perlihatkan lagi secercah tetesan sapaan
hangatmu…..
Sepertinya pagi ini aku mulai bisa tersenyum karena melihat
sosokmu yang begitu terlelap memejamkan mata walau berbagai jenis selang infus
melilit tubuhmu, tabung tabung membantumu untuk pernafasan, wajah pucat itu terus
terpancar. Pria hujanku malam ini aku melihatmu melalui seeogok video call, aku
mampu melihatmu bibir tebalmu, yang dulu menghantarkan setiap kecupan, tangan
hangatmu yang dulu ku genggam, entah mengapa kini semua terdiam. Kumis itu di
sudut wajahmu mulai terlihat tak mengurangi sedikitpun kadar ketampanan yang
berada dalam dirimu.
15 Agustus 2014, pukul 20.33 entah kilatan cahaya langit
mana yang saat ini mampu membuat seluruh pusat tubuhku terhenti, Entah sebesar apa suara hujan yang kini mampu meluluhlantahkan
setiap pusat tubuhku, mejadikan semuanya tak mampu berdaya. Hanya mampu terdiam
.Membuat seluruh tubuhku melemas. Pria ku, pria hujanku menghembuskan nafasnya
untuk terkhir kali. Tuhan ku harap inilah mimpi buruk ku yang akan segera
berakhir.
Ketika keadaan harus mampu ku hadapi, ketikan hati tak
beraturan harus mampu menerima kepergianmu, sosok tegapmu sosok penyemangatku,
telah tertidur tenang. Tuhan ini tidak mudah, aku terlalu terbiasa dengan pria
itu, aku selalu terbiasa menerima sapaan hangat serta pelukkan hangat darinya
aku terbiasa berdiri berdua dengannya, dengan segala support dan perhatian
darinya. Kini pria itu hanya mampu terpejam di balik selebar kain putih yang
menutupi tubuhnya, Tubuhnya yang dulu selalu memancarkan aroma citrus floral,
tubuhnya yang dulu selalu ia berikan sebagai penopang di saat aku benar benar
lelah. Kini tubuh tegap itu terbujur lemah .
Seharusnya aku mampu mengikhlaskan dan mampu menerima pria
ku telah tertidur. Namun semua itu tak sesederhana yang kubayangkan. Semuanya terlalu sulit, segala tentangnya
terus mengalun indah disetiap langkah ku tanpa dia saat ini. semuanya tak bisa
begitu saja terhapuskan.
Dan malam ini aku kembali merasakan rasa sepi itu, setiap
apapun setiap segala yang ku lakukan semuanya menorehkan sebuah kenangan klasik
saat aku bersamanya. “aku benar benar kangen kamu “
Sesulit inikah yang harus ku hadapi, akankah aku mampu
berdiri di atas keua kakiku tanpa kau disampingku. Pria ku, pria hujanku,
katakana ini hanyalah mimpi terburukku.
When you’re gone
The piece of my heart are missing you
When youre gone
I miss you
I’v ever felt this
way before
Everything that I
do reminds me of you
Do you see how much I need you right now
I miss you
All I ever wanted was for you to know
Everything I’d do , I’d give my heart and soul
I can hardly breathe I need to feel you here with me.
Aku berharap kau selalu menemaniku, selalu muncul dalam
setiap mimpi mimpi dalam tidurku, jangan pernah takut karena kau pria hujanku,
akan selalu ada dalam setiap tutur ucap doaku, akan selalu tersimpan di tempat
terindah yang pernah kumiliki.
Takakan ada yang pernah menghapus sedikitpun keadaan ataupun
kenangan yang telah kita lewati, bahkan terlalu sulit aku menerimanya. Pria
yang telah banyak mengajariku arti sebuah kedewasaan, arti sebuah hujan, dan
arti sebuah cinta kasih sayang. Jelas dan sangat jelas aku selalu merindukkan
sosoknya, merindukan dekapan hangatnya. Tuhan jaga priaku, masukan ia kedalam
syurga firdaus mu. Tuhan tunjukkan jalan apa yang terbaik untuk ku yang tengah
terseok melangkah tanpanya. melangkah tanpa sosok penyemangat dalam hidupku.
Terimakasih , terimakasih . I love you soo much….
Biarkan aku untuk kesekian kalinya, menjadi sosok wanita
sukses , bantu aku untuk mencapai
kebahagian dan segal cita citaku, tanpa harus melupakan sedikitpun tentang
kamu. Jika aku diminta mengulang waktu, aku tetap ingin mengenal sosokmu, sosok
pria penuh dengan kekonyolan serta pria penuh semangat, aku ingin terus
bercengkrama bertengkar mengejek bahkan menghabiskan banyak waktu denganmu, aku
ingin mengulang itu semua. Semuanya terlalu indah dan tak mungkin dapat
terlupakan.
So lucky my love, so lucky to have you.
I love you pria hujanku, tetaplah hidup dalam sisi lain di
hidupku. Sampai bertemu di kehidupan selanjutnya…………
He is a not dead
Ican not say, and I will not say he dead
He just closed his eyes
I keep praying
And he always in my prayers
I will someday we will meet in heaven
Every day we will meet up in my dream
I love you everyday
And now…. I Miss you
I will always love you………………..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar