Jumat, 19 September 2014

Rain Sound



Hujan,

Salah satu kejadian di alam semesta ini dimana seseorang dapat menyebutnya air mata dari langit.
Akankah itu benar?. entahlah aku pun tak paham. Bukankah hujan salah satu anugrah Tuhan yang harusnya kita syukuri. Namun mengapa sepertinya aku nampaknya sangat tak menyukai tangisan bumi itu, aku tak menyukai ketika Rintikan Rintikan air itu mulai dengan derasnya membasahi tanah di bumi yang mungkin akan mengakibatkan udara menjadi sejuk. Apakah tak menyukai hujan merupakan kesalahan? . Ya aku gadis pembenci hujan karena hujan mungkin akan membuat dirinya merasa sendiri merasa sesakit saat mendengar suara amukan langit serta kilatan cahaya yang  terus terjadi di kala turunnya hujan. Namun sebaliknya pria itu, pria yang memiliki mata sipit serta berperawakan tinggi, Pria yang di kenalnya melalui seuntai kata sapaan hangat yang mampu membelenggu setiap jiwa yang mendengar bahkan memahami arti setiap perkataanya.

Pria itu , lagi lagi pria itu seperti heroin. Lelaki yang memiliki kesukaan tersendiri terhadap Rintikan air langit, ya ia menyukai hujan, menyukai kesejukan  bau tanah basah yang disirami dengan eloknya Rintikan tangisan bumi. Terkadang aku bertanya mengapa ia menyukai hujan, mengapa ia teramat merindukan kehadiran hujan.

Namun semua teka teki akan hujan awalnya tak akan terkuak, sebelum laki laki itiu mampu memperlihatkan jiwa dan sisinya tersendiri. Seorang sosok lelaki dengan penuh sapaan hangat serta tangan kekar yang senantiasa terkadang bertindak seenaknya dengan kemampuannya, mampu menguasai hampir seluruh hari hari ku. Mapu menyisihkan ruang tersendiri dalam ruang terdalam di diri sendiri.

Pria yang pernah memberikan mawar Putih serta dentingan piano yang amat mempesona, yang dapat menyejukkan serta membuat semburat senyuman dan rona merah di pipi terpancar saat sepenggal kata cinta serta tutur bahasa yang apik keluar langsung dari bibirnya. Bibirnya yang selalu memancarkan kecupan hangat setiap paginya. Seperti tetesan air di gurun pasir, pria itu perlahan datang dengan sapaan hangat setiap pagi siang ataupun malam hari, selalu menghiasi bahkan menemani segala keluh kesah.

Apakah sebuah kesalahan? terjatuh begitu dalam terhadap sosok pria itu, pria berkaca mata, yang menyembunyikan elok mata sipitnya di balik beberapa inci lensa bening yang memperlihatkan sekilas pancaran hangat dari kedua bola mata indahnya.
Tubuhnya yang selalu ia berikan pundaknya, serta dentingan piano itu mampu memberikan kesan tersendiri untuk mencapai kadar semangat . Mungkinkah pria itu mampu merubahku untuk tak membenci hujan? . untuk selalu terbiasa dengan hujan yang senantiasa terkadang turun dengan seenaknya tanpa perintah ataupun komando dari setiap insan manusia.

Ataukah justru pria itu yang  mampu menjadi kilatan langit cahaya yang menakutkan. yang dapat membuat hati remuk. Di sela Rintikan hujan hari itu, pria dengan sapaan khasnya kembali selalu merangkul ku, membawaku bangkit dari keterpurukan sesaat . Keterpurakan yang dialami gadis belasan tahun. Bukankah masih terlalu ranum bagi seorang gadis menyikapi segala sapaan dari pria itu, sapaan yang terlalu hangat, sapaan yang Seolah mengkhawatirkannya, sapaan yang selalu memperhatikannya lewat sederet kata serta sikap yang memancarkan daya Tarik kenyamanan tersendiri ,

Pria yang ternyata…..

 Waaw memiliki kesamaan dalam hal membaca, menyukai sederet untaian kata manis yang tersusun apik dalam setiap lembar novel kesukaannya, yaah pria itu menyukai membaca lembaran lembaran kisah apik yang menyentuh. Bukan ia bukan seorang pria dramatis yang penuh kata cinta, ia hanya seogok pria yang tak ingin menyia nyiakan waktu luang dengan hal yang sedikit aneh. Ia juga bukan pria baik yang hanya menekuni sebuah dereta kata buku, ia hanya pria yang mampu memahami setiap keadaan yang mungkin selalu aku alami. Itu yang ku tau. Pria dewasa berumur hampir dua puluh tahunan yang selalu menemani gadis belasan tahun seperti ku. Bagaikan membawa seribu kupu kupu warna warni sosoknya datang dengan penuh warna menimbulkan hasrat untuk merindukannya setiap waktu.  Yang selalu mampu menjadi sosok panutan yang tegas penuh support yang selalu memberikan suguhan terindah kata cinta ,melebihi  seorang penyair yang memiki beribu untaian kata, Bahkan pria itu bukan seorang yang sering berujar kata cinta hanya lewat tingkah manisnya serta sedikit celotehan lembut yang mampu menyejukkan. Yaah lagi lagi sesejuk gerimis pagi ini yang terlintas jelas di sudut mata.

Aku tau bahkan sangat tau banyak wanita yang mengelilinginya entah itu teman sahabat atupun ‘wanita yang menyukai gelak tawanya’ namun yang ku tahu ia hanyalah sosok pria hangat yang selalu menyediakan pundak memberikan support serta kekonyolan aneh dan kegalakan yang berada dalam dirinya yang selalu menjadi pelengkap harihari untukku. Aku tak peduli bagaimana celotehan orang orang mengenai dia , aku ataupun tentang kami. Yang aku tau hanyalah aku bahagia bersamanya. Tak aku pedulikan berbagai ocehan atupun celotehan yang kadang terlontar dengan bisingnya dari mulut mulut seseorang yang amat’ berbisa’ yang bahkan sama sekali tak mengetahui apapun tentang aku dan pria itu dan juga tentunya tentang kami.
Bukankah ia lelaki biasa yang memiliki nafsu serta ambisi yang berlebih, tangan kekarnya pagi ini meratap jelas pada keheningan pagi, pagi yang mungkin terlihat sangat trik karena sang surya sedang gencar gencarnya memancarkan sinar agungnya. Hey Pria berkaca mata itu tersenyum ,sedikit membuka helm hitam yang ia pakai dengan sapaannya, menghampiri ku yang sudah sekitar setengah jam menunggunya di pinggiran kota.
Pertemuan pertama yang mungkin sedikit terusik oleh panasnya pagi yang menyengat permukaan kulit ‘ hey annyeong, aaah “ sapaan kikuk tercipta dari mulut ku ,entah apa yang harus aku lakukan saat menatapnya, seperti ribuan kupu kupu yang berterbangan perut serta hati ku terasa seperti di gelitik melonjak kegirangan. Namun di balik lensa bening di matanya ia tersenyum, matanya terpejam dan jaket cokelat yang ia gunakan sedikit bergoyang karena angin yang berhembus.

Ia menyapaku dengan hangat, dengan tangan kekar yang selalu senantiasa melingkar pas di pergelangan tangaku. Entah kegembiraan seperti apa yang harus ku ungkapkan saat bersama pria ini. Sesaat setelah ia menaruh  tas ransel hitam serta semua barang barang di sebuah hotel tempat kota ku tinggal, Pria itu melangkah pasti menuju di mana kini aku tengah mendaratkan bokong di sofa empuk yang berada di lobi hotel tersebut. Pria itu masih sama, masih dengan celana jins biru navy serta kaos hijau dan jaket cokelatnya , ia tersenyum dan menggaruk sedikit kepalanya yang di tumbuhi rambut dengan potongan sedikit panjang. Pria itu tanpa basa basi menarik lenganku, tanpa komando ataupun persetujuanku, menarikku untuk mencari tempat makan. Namun kala itu perasaan aneh muncul, perasaan takut ia menghilang takut setelah pertemuan ini ia menjauh. diam diam tangannya menarik lenganku untuk berpegang erat ke bahu atau pinggangnya saat kami di perjalanan.

Hari itu , jalanan yang Nampak lenggang serta daun daun berjatuhan sepertinya menjadi saksi bisu bagaimana ia memperlakukan ku sangat indah sangat apik. Saat tangannya dengan jelas selalu mengelus dan mengacak helaian rambutku.  Bau khas citrus floral yang fresh menyeruak dari tubuhnya tak mengurangi sediktpun kesan hangat dari diri pria hujanku, parfumAcqua Digio yang merupakan salah satu parfurm keluaran dari Giorgio Armani, Itulah perfume kesuakaan pria ini. Dengan bau citrus floral yang fresh mampu memeberikan aku kenyamanan dan  membuata ku betah untuk berlama lama bersandar dalam pundak bidangnya yang tegap, bahkan senyumnya tak pernah pudar. Pria itu pria penyuka hujanku, tetaplah menjadi gerimis pagi untukku yang selalu membuat sejuk relung hati ini. 

Beberapa hari kedepan mungkin aku masih mampu menikmati wangi citrus floral itu dari balik tubuh tegapnya, saat kami kembali menyantap menu makanan yang sudah tertera di depan mata, bahkan pria itu masih saja sempat bermain mengejek bahkan sekedar menggoda membuat aku harus menahan tawa geli dan lagi lagi tangannya senantiasa menggacak rambutku, rutinitas yang menurutnya menjadi rutinitas favoritnya mengacak rambutku, kesukaan yang aneh bukan?haha

 Dengan entengnya ia kembali tertawa memperlihatkan deretan gigi putihnya yang tersusun amat rapih. Ia masih mampu merekomendasikan makanan serta minuman apa yang harus kami makan banyak berjuta rencana yang tersusun bahkan terlontar dari bibirnya, bahkan waktu makan kami sepertinya tak terasa mengeyangkan karena pria itu selalu berkata konyol dan bertingkah layaknya seorang anak kecil berumur lima tahun, masih jelas ketika saat itu, dengan gampangnya dan tanpa sedikitpun rasa malu ia melempar bahkan merancau seperti seorang bocah yang kehilangan mainan saat aku kembali merebut kentang goreng serta jus mangga yang kami makan bersama. Rasanya hari itu teramat bahagia gelak tawa terus mendominasi ,tangannya terus menggenggam erat .Saat kedua mata kami kembali bertemu rasanya seperti jutaan kembang api tengah meledak ledak dalam dadaku aaah aku semakin tak terkontrol.  Saat tangannya dengan enteng menggiring keningku untuk selalu berada di sampingnya, kami bermain, yaah bermain sepuasnya hari itu semuanya penuh dengan keindahan penuh dengan tawa, Seperti mimpi aku bisa merasakan genggaman tangannya pelukkan hangatnya saat pria iitu dengan sigap menarik ku kedalam pelukkannya di tengah ramainya pengunjung pusat perbelanjaan yang tengah berdesak dessakn dalam salah satu lift. 

Serta hembusan nafas segarnya saat ia benar benar nyata berada di depanku. Aku sedikit menundukkan kepala saat perlahan mata kami bertemu , mata dengan penuh keteduhan itu menatap ku sayu dengan penuh warna, yah dari awal aku sudah terhanyut dalam kedua bola cokelat yang dapat dilihat dari balik beberapa inci lensa kaca yang tengah menggantung jelas di depan matanya. Bahkan kami hingga lupa untuk mengambil satu picture gambar sebagai moment terindah, kami terlalu sibuk tertawa, terlalu sibuk menikmati keindahan yang sangat luar biasa. Pria hujanku terimakasih….

Bahkan dinginnya malam itu tak menghalangi hangatnya gelak tawa kami yang terus saja terukir dengan jelasnya, saat sedikit  pancaran terangnya bintang dari atas langit seperti menjadi saksi biksu moment terindah yang telah kami lewati. Saat aku kembali terhanyut tertidur di pundaknya saat di jalan pulang. Bahkan tak tersadar tempat tujuan kami telah sampai. Ia menoleh menepuk tanganku yang menggantung bebas di sampingnya, membangunkan ku dengan hangatnya, menyuruhku segera memasuki rumah. Semoga pertemuan ini tidak akan berakhir sampai disini


Seuntai kata cinta selalu terukir, sebisa mungkin aku menahan air mata saat ke esokkan hari ia harus kembali, harus kembali ke kota dimana ia tinggal. Pria itu berjanji akan selalu kembali akan selalu menemani dan menyapaku dengan hangat, aku mengelak saat buliran bening membasahi kedua mata ini, ia bertanya ‘kau menangis’ dengan cepat aku mengelak mengatakan ini hanyalah kepingan debu yang memasuki area mataku, membuat aku sedikit menangis. Ia terkekeh pelan, rasanya aku tak ingin melepaskan genggaman tangannya yang saat ini masih saja terus menggenggamku saat terus berjalan ke arah parkiran hotel. “jangan pernah menangis sendirian, jangan manja terhadap orang yang tak mengerti  dirimu. Sampai jumpa  rindu itu selalu datang setiap hujan hahah” itu pesanmu, sembari tertawa pelan kau memasangkan helm hitammu perlahan namun tetap menggenggam erat tanganku. Ahh aku kembali merindukkan sosok itu. Tolong hentikan waktu ini agar ia tak cepat kembalili pergi.

Ia pergi, dengan satu kecupan hangat yang mendarat di kening ku,Kecupan di sore hari yang menjadi nyata seperti sengatan listrik saat bibirnya mendarat jelas di keningku. Bahkan aku hanya mampu membulatkan mata saat ia kembali menarik bibirnya dan tersenyum kikuk dan kembali memakai helmnya. Setelah itu hanya punggungnya yang mampu ku lihat dan perlahan menghilang di ujung jalan. Di sini di bawah langit yang sama aku terus berdoa, kaulah pria ku. kau lah merupakan embun pagi dan gerimis pagi yang senantiasa menyejukkan.

Sudah lama kita berjalan bersama, beribu buliran hujan kita lewati bersama, bercerita, mengadu dan saling melengkapi. walau terkadang sedikit perbedaan terus saja mengusik  membuat perdebatan kecil terus terjadi. Tak masalah selama aku masih terus mampu melihat senyum serta tatapan hangatmu, aku tetap bahagia.
Di balik layar kaca laptop, wajahmu setiap malamnya mampu menemaniku, melalui media social skype wajah itu suara itu selalu kembali ku dengar. Bahkan terlihat konyol saat sepasang kekasih dengan mudahnya berjalan dan makan bersama secara langsung namun kita mampu bersama namun terhalang layar laptop.

Tak jarang bahkan kita tertidur saat video call itu masih berjalan, sehingga setiap paginya aku melihatmu terpejam tertidur begitu pulas dengan eksprsi lucu seolah kita benar benar berdekatan. Berjuta jarak bahkan harus mampu kita kalahkan , celotehan serta penuturan kata kata manismu selalu membekas setiap  harinya. Hanya mampu melewati serta menunggu waktu dan rencana apalagi yang akan Tuhan buat. Bukankan setiap pasangan mampu di ciptakan Tuhan, hingga saat ini pun aku masih beharap dan selalu dan selalu mengikuti alur waktu ketika aku terus bersama mu. Pria hujanku…..

Saat kau berlibur ke Singapore, bahkan kita terlalu jauhu tuk berkomunikasi, kau mengenalkanku pada sosok keluargamu, aku bahagia kau berceloteh banyak, kau membagi setiap pengalaman kau bercerita bagaimana kau berlibur saat ini, terlebih saat kau meminta aku menemanimu, tapi sepertinya Tuhan berkehendak lain, aku tak mungkin menemanimu berlibur jarak itu terllau jauh untuk diriku. Pria hujanku, selalu merengek meminta yang menurutku itu sangat klasik, saat nafsumu mulai menggebu. Aku hanya mampu tertawa ,tertawa karena melihat tingkah konyolmu. Sikapmu selalu menjadi warna tersendiri. Berbagai hal banyak kita lewati, dan tidak pernah sedikitpun aku melupakan hal hal ataupun moment yang ku lewatkan denganmu, semuanya tersimpan jelas di dalam sudut hati…

Kau  mampu memberikan yang bahkan orang lain tak dapat memberikannya padaku, sebuah kenyamanan yang teramat tulus serta kehangatanmu selalu membelenggu ku, selalu  menemani di sela Rintikan hujan yang turun dengan derasnya di jarak pandang kita yang sangat berjauhan. Di berpuluh puluh kilometer kita berjarak kehangatanmu selalu terpancar, kau mengajari apa itu arti kedewasaan, apa itu  ketulusan serta keikhlasan. Semua itu kau ajarkan secara perlahan bahkan kenyamanan yang  tak pernah aku dapatkan dari pria pria lain. Dengan umur belasan tahun aku saat ini mungkin mencoba melewati masa peralihan dari remaja menuju kedewasaan . Dengan sabarnya kau menuntunku layaknya embun pagi layaknya pancaran sang surya cahayamu begitu hangat, kau berdampingan bersama sosok ibu ku membimbingku membantuku di setiap masa sulit. Melalui celah celah dentingan piano yang tercipta dari jari tanganmu tuts tust serta nada nada apik tersusun indah mengalun kau kirimkan untukku, mampu mengusir rasa lelah dari aktivitas yang selalu ku jalani. Support darimu selalu mengalun indah.

Bahkan tak jarang aku memeluk manja terhadapmu dalam kelelahan rutinitas, kebodohanku terkadang membuat segelintir pertengkaran di antara kita. Membuat pria hujanku sedikit ‘mengamuk’ jika sudah begitu aku harus kembali mengalah harus kembali meredakkan emosinya yang tengah meledak ledak, salah satu sifatnya ‘galak’ Pria hujanku mampu menjadi sosok yang begitu ‘garang’ saat sesuatu yang  tak ia sukai terjadi, dan kuharap aku mampu memakluminya. Karena sosok itulah yang mempu merubahku menjadi lebih dewasa, yang mampu mengenal apa itu Cinta, karena sesungguhnya kedewasan dalam cinta begitu rumit. Dewasa itu sulit harus mengenal cinta, dan cinta itu rumit. Itulah sepenggal kata yang selalu ku ingat saat ia kembali berceloteh dengan gagahnya, dengan tubuh tegapnya. Namun sosok kekanak kanakkannya terkadang masih terlihat nafsu ambisius seorang pria sering terpancar ketika ia sedikit menggelitik.

 Aku hanya mampu bergelak tawa saat itu terjadi. Karena itulah warna, warna kebersamaan yang selalu kau pancarkan. Terkadang hitam suram saat kita bertengkar, namun terkadang merah muda saat kita slaling bermanja atupun terkadang bening seputih susu saat kita sedang sibuk dan hanya mampu terdiam tak merasakan apapun hanya sekedar kata pengingat dan sapaan sesaat., atau sering juga berwarna merah saat semangat kita berusaha untuk yang terbaik. Begitu warna yang kau ciptakan. Begitu hebat bukan……

Aku selalu ingin menikmarti berbagai warna denganmu, melewati Rintikan hujan yang sangat kau sukai. Perlahan kau mengajarkan untuk tak boleh terlihat lemah di hadapan siapapun tak boleh terlalu baik bahkan terlalu menggantungkan diri dan percaya terhadap orang lain. Karena hati manusia itu mampu berubah ubah, mampu saling menyakiti. Itu yang kau katakan

Seuintai kalung serta beberapa hadiah kau kirimkan saat aku menginjak pertambahan usiaku, aku tau kau tak bisa secara langsung menemani disini, namun lewat video call kita malam ini mampu membuat secercah air mata keluar dari sudut mataku, saat melihat dengan jelasnya kau bernyanyi memberikan selamat ulang  tahun serta harapan harapan yang kau harapkan dari ku untuk hidupku yang lebih baik. Air mata kebahagian itu terlalu banyak meluncur dari sudut mataku, rasanya aku ingin memelukmu mendekap dan kembali merasakan aroma citrus floral yang memancar dari tubuhmu, Aku menerima hadiahmu, bahkan selalu kuganakan.
Terima kasih, terimakasih pria hujanku.

 Begitulah aku memanggilmu. Saat ini aku terlalu terbiasa dengan keberadaanmu. bolehkan aku mengatakan aku mencintaimu sesederhana Rintikan hujan yang kau sukai, begitu sederhana aku mencintaimu, sebanyak gerimis pagi yang menyejukkan.

Hujan…

Hujan pagi ini, pagi dimana hari nan fitri tiba, semua muslim senang menyambutnya. Tak terkecuali kau dan aku, menyambutkan dengan gelak tawa seperti malam tadi kau terus berceloteh kau terus menggoda dan membuat rona merah di pipiku selalu terpancar. Seharusnya pagi ini aku bersemangat, namn entahlah sampai malam taka da satupun sapaan hangat yang ku terima darimu. kemana engkau? . kemana pria ku? huum?.
Sejuta Tanya terus menghantui, ia tak pernah seperti ini sebelumnya. Tak ada kabar, aku mencoba memahaminya mungkin ia hanya sedang sibuk dengan keluarganya karena inikah hari yang fitri. Aku masih dengan gelak tawaku disini bercanda dengan beberapa tamu kedua orang tua, se saat aku menolehkan kepala saat melihat deringan handphone ku yang tergeletak begitu jelas di meja kayu aku meraihnya membuka sebuah pesan dari seorang sahabat pria hujanku.

Seolah pusat tubuhku terhenti saat membaca pesan itu, Pria ku, gerimis pagi ku kini terbaring lemah memejamkan mata di sebuah rumah sakit, akibat kecelakaan pagi tadi seusai melaksanakan shalat IED. Tuhan apalagi rencamu mu kali ini tolong lindungi pria ku, perlahan langkahku terseok, saat memasuki kamar tangis ku pecah saat mendengar suara di sebrang telfon seorang wanita yang tak lain ibu dari pria ku . Dengan suara serak wanita separuh baya itu berkata kebenarannya anak sulungnya tengah tergeletak terpejam dengan beberapa selang infus serta pemacu jantung yang berada di tubuhnya. 

Ahhhk, aku kembali menangis, Ku redam suara tangisku yang kian memecah saat melihat beberapa fotomu yang dikirm, wajah pucatmu bahkan mata sipit yang dulu selalu aku manjakan selalu aku sukai kini tengah terpejam dengan banyaknya selang infus yang menjerat dan monitor pengatur tekanan jantung tergeletak tepat di sebelah pria ku. Tuhan lindungi ia lindungin priaku.

Sudah hampir dua minggu kau terus tertidur, apa kau tak lelah huum? Pria ku , wajah pucat mendomisi wajahnya, mata indah itu masih  terus terpejam tangan kekar serta jari jari panjang yang dulu menggenggam erat tangku kini tergolek lemas dengan banyak tusukan jarum infus, mulutnya yang juga ada beberapa selang  pembantu pernafasan membalut tubuhnya, Tuhan aku lemah tolong selamatkan ia jangan ambil pria ini. Tuhan bantu aku dalam rencanamu, Tuhan tunjukkan jalan terbaikMu, berikan aku kesabaran untuk terus menjaganya dan menunggunya kembali untuk membuka matanya mendengar suaranya serat merasakan hangat peluknya.

Tak dapat di pungkiri aku merindukkannya sangat merindukkan celotehan panjang yang selalu terlontar merindukkan gelak tawanya, ini seperti mimpi bahkan sebelum ia kecelakaan ia berjanji akan memberikkan sepatu kesayangan miliknya, akan kembali menemaniku untuk menonton sebuah perrtunjukkan konser idolaku. Tuhan tolong selamatkan pria ku jangan ambil warna kebahagiaan dalam hidupku…..
Bukankah kau telah berjanji bahkan kau selalu berucap ”aku tak akan pergi sebelum kau yang menyuruhku pergi, pegang janjiku”  itu penuturan katamu, aku tak akan menyuruhmu pergi, jadi aku percaya kau tak akan pergi. Pria ku , aku yakin kau kuat, aku yakin kau begitu sanggup melewati masa kritismu, tak akan pernah lupa doa ini selalu terukir indah di setiap sujud shalat, namamu selalu mengalir deras di setiap doa ku.

Pria hujanku…
Bukalah kedua matamu, pancarkan lagi kehangatan itu….
Maaf aku tak mampu menetapi janji untuk tak menangis secara terus menerus. aku akan terus berusaha mewujudkan keinginamu menuruti segala nasehatmu. aku mohon buka matamu….
Hujan……….
Gerimis pagiku ,perlihatkan lagi secercah tetesan sapaan hangatmu…..
Sepertinya pagi ini aku mulai bisa tersenyum karena melihat sosokmu yang begitu terlelap memejamkan mata walau berbagai jenis selang infus melilit tubuhmu, tabung tabung membantumu untuk pernafasan, wajah pucat itu terus terpancar. Pria hujanku malam ini aku melihatmu melalui seeogok video call, aku mampu melihatmu bibir tebalmu, yang dulu menghantarkan setiap kecupan, tangan hangatmu yang dulu ku genggam, entah mengapa kini semua terdiam. Kumis itu di sudut wajahmu mulai terlihat tak mengurangi sedikitpun kadar ketampanan yang berada dalam dirimu.


15 Agustus 2014, pukul 20.33 entah kilatan cahaya langit mana yang saat ini mampu membuat seluruh pusat tubuhku terhenti, Entah sebesar  apa suara hujan yang kini mampu meluluhlantahkan setiap pusat tubuhku, mejadikan semuanya tak mampu berdaya. Hanya mampu terdiam .Membuat seluruh tubuhku melemas. Pria ku, pria hujanku menghembuskan nafasnya untuk terkhir kali. Tuhan ku harap inilah mimpi buruk ku yang akan segera berakhir. 

Ketika keadaan harus mampu ku hadapi, ketikan hati tak beraturan harus mampu menerima kepergianmu, sosok tegapmu sosok penyemangatku, telah tertidur tenang. Tuhan ini tidak mudah, aku terlalu terbiasa dengan pria itu, aku selalu terbiasa menerima sapaan hangat serta pelukkan hangat darinya aku terbiasa berdiri berdua dengannya, dengan segala support dan perhatian darinya. Kini pria itu hanya mampu terpejam di balik selebar kain putih yang menutupi tubuhnya, Tubuhnya yang dulu selalu memancarkan aroma citrus floral, tubuhnya yang dulu selalu ia berikan sebagai penopang di saat aku benar benar lelah. Kini tubuh tegap itu terbujur lemah .

Seharusnya aku mampu mengikhlaskan dan mampu menerima pria ku telah tertidur. Namun semua itu tak sesederhana yang kubayangkan.  Semuanya terlalu sulit, segala tentangnya terus mengalun indah disetiap langkah ku tanpa dia saat ini. semuanya tak bisa begitu saja terhapuskan.

Dan malam ini aku kembali merasakan rasa sepi itu, setiap apapun setiap segala yang ku lakukan semuanya menorehkan sebuah kenangan klasik saat aku bersamanya. “aku benar benar kangen kamu “
Sesulit inikah yang harus ku hadapi, akankah aku mampu berdiri di atas keua kakiku tanpa kau disampingku. Pria ku, pria hujanku, katakana ini hanyalah mimpi terburukku.

When you’re gone
The piece of my heart are missing you
When youre gone
I miss you
I’v ever  felt this way before
Everything that I do reminds me of you
Do you see how much I need you right now
I miss you
All I ever wanted was for you to know
Everything I’d do , I’d give my heart and soul
I can hardly breathe I need to feel you here with me.

Aku berharap kau selalu menemaniku, selalu muncul dalam setiap mimpi mimpi dalam tidurku, jangan pernah takut karena kau pria hujanku, akan selalu ada dalam setiap tutur ucap doaku, akan selalu tersimpan di tempat terindah yang pernah kumiliki.

Takakan ada yang pernah menghapus sedikitpun keadaan ataupun kenangan yang telah kita lewati, bahkan terlalu sulit aku menerimanya. Pria yang telah banyak mengajariku arti sebuah kedewasaan, arti sebuah hujan, dan arti sebuah cinta kasih sayang. Jelas dan sangat jelas aku selalu merindukkan sosoknya, merindukan dekapan hangatnya. Tuhan jaga priaku, masukan ia kedalam syurga firdaus mu. Tuhan tunjukkan jalan apa yang terbaik untuk ku yang tengah terseok melangkah tanpanya. melangkah tanpa sosok penyemangat dalam hidupku. 

Terimakasih , terimakasih . I love you soo much….

Biarkan aku untuk kesekian kalinya, menjadi sosok wanita sukses , bantu aku   untuk mencapai kebahagian dan segal cita citaku, tanpa harus melupakan sedikitpun tentang kamu. Jika aku diminta mengulang waktu, aku tetap ingin mengenal sosokmu, sosok pria penuh dengan kekonyolan serta pria penuh semangat, aku ingin terus bercengkrama bertengkar mengejek bahkan menghabiskan banyak waktu denganmu, aku ingin mengulang itu semua. Semuanya terlalu indah dan tak mungkin dapat terlupakan.

So lucky my love, so lucky to have you.

I love you pria hujanku, tetaplah hidup dalam sisi lain di hidupku. Sampai bertemu di kehidupan selanjutnya…………

He is a not dead
Ican not say, and I will not say he dead
He just closed his eyes
I keep praying
And he always in my prayers
I will someday we will meet in heaven
Every day we will meet up in my dream
I love you everyday
And now…. I Miss you
I will always love you………………..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar