Kamis, 02 Oktober 2014

Rintikan hujan di siang hari

Siang siang gini gerimis sejuk, datang dengan serakahnya meghampiri ku yang masih saja duduk terdiam di sebuah taman kampus, dengan di temani secangkir coffe late mungkin bisa menambah kesan hangat di tengah rintikan hujan hari ini, kembali lagi deh ke blog ini, dengan yaa. ocehan oceha kecil. dan pastinya lagi lagi selalu mengingat tentang pria hujanku....

Topiknya pasti gkjauh jauh deh, dari si pria hujanku.
Di tengah tugas kampus yang sudah menumpuk bak gunung berapi yang siap memporak porandakan segala hal. aku masih berjalan perlahan mmenyelesaikan segala tugas itu...
Dan siang ini sepertinya rasa malas masih terus menghantui dan memenangkan fikiran untuk menunda mengerjakan tugas saat sore nanti saja /ini gkboleh ditiru ya/

Biasanya di tengah rintikan hujan, ada satu sumber suara yang amat ku rindukan, yang biasanya menggeletik permukaan kulit, suara pria hujanku, yang selalu bersorak bergembira bila hujan itu datang, ia pasti langsung tersenyum riang menunjukkan deretan gigi gigi putihnya, yang tersusun amat rapih, mata sabitnya pun ikut melengkung sempurna, aah aku merindukkan wajah itu, wajah cerianya....

Tapi mungkin sekarang ia tengah tenang dan menyaksikan tangisan bumi ini dari atas sana..
Setetes air mata lagi lagi jatuh, aah bodoh, seharusnya saya tidak boleh kembali menangis, aah maaf...
Aku hanya kembali merindukkannya.
Kini tak ada lagi tangan kekar yang memelukku dari kejauhan di saat kilatan cahaya langit itu menyambar dengan gagahnya, aku hanya mampu kembali meringkuk di sini, sambil meremas ujung baju yang ku gunakan untuk mengurangi sedikit rasa ketakukan itu.
Tak ada yang ku pedulikan, orang orang yang tengah berlarian mencari tempat persembunyian untuk membuat agar dirinya tak basah.
Aku tak memperdulikan apapun, hanya wajah pria itulah yang ku temukkan ketika aku memejamkan mata, hanya wajah itu yang kulihat setiap aku memejamkan mata, dan kini aku percaya hinga sapai kapanpun. Pria itu akan terus selalu ada semua hal terkecil hingga terbesar itu semua hal terindah...

Kini tak ada lagi yang merengek meminta ku untuk terus menulis cerita pendek, sebuah cerpen. yaah aku sangat menyukai tentang menulis, dan biasanya pria itulah yang selalu merengek selalu mengedit dan mersepon segala cerita cerita pendek yang ku tulis, tanpa aku memintanya pasti ia pasti akau meminta terlebih dahulu , aku merengek meminta ku untuk membacakan atau memberikan hasil hasil cerpen itu kepada pria ku..

Taapi kini sepertinya sosok itu meghilang, tak ada lagi celotehan serta rengekan kecil itu, sungguh aku merindukkannya. Tak ada yang bisa menjadi sosoknya....
Dan kini pun tak ada lagi sosoknya bisa ku aajk berkelahi saat kami membicarakan tentang idola
aku merindukkan segala tingkah lakunya, segala yang ada dalam diri pria hujanku...

Hanya seuntai doa serta dalam mimpi lah kami dapat berkomunikasi....
Ku harap aku dapat lebih dewasa dapat lebih memahami segala jalan yang kini Tuhan berikan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar